Menu

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Nasional · 15 Feb 2026 ·

Sudah Sepekan Cisadane Tercemar Namun Belum Ada Tersangka ‘Pembunuh’ Jutaan Ikan


 Aktivis dan Pegiat Lingkungan Hidup Tangerang yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat menggelar Aksi Simpatik didepan Gedung KLH menuntut segera Tangkap Pencemar Sungai Cisadane. Foto: TangerangPos Perbesar

Aktivis dan Pegiat Lingkungan Hidup Tangerang yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat menggelar Aksi Simpatik didepan Gedung KLH menuntut segera Tangkap Pencemar Sungai Cisadane. Foto: TangerangPos

Tangerang – Sudah sepekan kasus tercemarnya Sungai Cisadane berlalu sejak terbakarnya gudang Pestisida di Taman Tekno BSD terbakar pada Senin (09/02/2026) lalu. Namun hingga saat ini pihak Kepolisian maupun Kementerian Lingkungan Hidup belum menetapkan satupun tersangka terhadap kejahatan lingkungan ‘pembunuh’ jutaan ikan Sungai Cisadane tersebut.

Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang yang concern dalam pelestarian Sungai Cisadane, Ade Yunus mengatakan bahwa tercemarnya Sungai Cisadane adalah kasus serius dan kejahatan lingkungan yang sangat dahsyat namun dinilai lamban dalam penanganan.

“Masih ingat kasus Sungai Ciujung?, Menteri LH sudah siapkan calon tersangka, namun sudah setahun lebih belum ada juga Tersangkanya. Terkait kasus Cisadane, secara bukti ilmiah kita tunggu hasil uji laboratoriumnya, namun secara indikator sudah jelas jutaan ikan mati akibat kelalaian tumpahnya 20 ton Pestisida ke Sungai Cisadane, kami akan kawal terus hingga adanya penetapan tersangka,” Ungkap Ade, Minggu (15/02/2026).

Pria yang akrab disapa kang Aye tersebut mengingatkan kepada semua pihak terkait, bahwa kasus tercemarnya Sungai Cisadane sudah menjadi perhatian dunia dan dinilai sebagai kejahatan lingkungan luar biasa, sehingga semua mata akan mengikuti perkembangan kasus tersebut.

“Kami percaya dan optimis, pihak kepolisian maupun Kementerian Lingkungan Hidup bakal segera menetapkan tersangka, karena kasus tercemarnya Sungai Cisadane telah menjadi perhatian dunia,” Tambahnya.

KLH Segel Gudang Pestisida Diduga Sumber Pencemar Sungai Cisadane 

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia secara resmi menyegel gudang Pestisida di Kawasan Taman Tekno BSD Kota Tangerang Selatan yang sebelumnya terbakar dan menyebabkan tercemarnya Sungai Cisadane.

“Saya dengan Pak Kapores, Pak Diputi Gakkum, Pak Diputi PPKL telah melakukan peninjauan terkait dengan kasus ini sejak awal kejadian, maka Bapak Kapores telah melakukan langkah-langkah kepolisian dalam waktu yang cepat untuk menangani ini,” Ungkap Hanif kepada awak media, Jumat (13/2/2026).

Dalam kunjungan ke gudang kawasan Taman Tekno BSD tersebut, Hanif juga mengungkapkan fakta dilapangan bahwa tidak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Hanif menegaskan bahwa ada dua tuntutan yang akan diajukan KLH yaitu pidana dan perdata, namun untuk urusan Pidana KLH menyerahkan pada aparat kepolisian dalam hal ini Polres Tangsel.

“Untuk pidana, nanti Pak Kapolres yang akan menindaklanjutinya. Kemudian dari sisi perdatanya kita akan ambil sebagaimana dimaksudkan di dalam pasal 87 dan 90 Undang-Undang 32 Tahun 2009. Ini mungkin akan panjang ceritanya, karena air ini mengalir mulai dari Sungai Jaletreng ini sampai ketemu Cisadane sekitar 9 km, lalu aliran Cisadane sampai Teluknaga itu puluhan kilometer,” tandasnya.

Aktivis Apresiasi Langkah KLH

Sementara itu, Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Tangerang (Kalung), Ade Yunus menyampaikan apresiasi atas langkah KLH menyegel gudang Pestisida milik Biotek Saranatama, namun pihaknya menyayangkan langkah hukum KLH hanya fokus pada Perdata.

“Tentu kami apresiasi atas penyegelan gudang tersebut, meskipun terlambat setelah H+5. Nah, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat parah, mestinya KLH tidak hanya mengenakan pasal 87 dan 90, harusnya bisa mengenakan Pasal 60 Junto Pasal 104 dengan sanksi sesuai Pasal 98 berupa penjara minimal tiga tahun dan maksimal sepuluh tahun, serta denda minimal Rp 3 miliar hingga Rp 10 miliar,” Terang Ade.

Terkait audit lingkungan pada kawasan pergudangan Tekno BSD, Ade mendukung langkah Menteri Lingkungan Hidup setelah mengkonfirmasi tidak adanya IPAL pada gudang tersebut.

“Sudah terkonfirmasi tidak ada IPAL, kalau punya AMDAL kok bisa lolos?, kami dukung audit pengelolaan lingkungan di kawasan Taman Tekno BSD secara menyeluruh, kalau terbukti melanggar, pidanakan juga, agar kejadian tersebut tidak terulang,” Pungkasnya.[red]

Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sufmi Dasco: Pedagang Kaki lima adalah Wajah Ekonomi Rakyat yang Terus Bergerak

3 September 2026 - 08:37

Aktivis Peduli Sungai Tolak Gagasan Menteri PKP Bangun Rumah Susun Diatas Sungai: Ide Konyol!

31 Agustus 2026 - 08:19

KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

30 Agustus 2026 - 07:03

Janji Dasco Soal RUU Perampasan Aset, Kawendra: Beliau Orang yang Paling Komit

28 Agustus 2026 - 15:07

RUU Perampasan Aset Tuntas Paling Lambat 15 Desember 2026, Sufmi Dasco: Kami Hormati Aspirasi 

27 Agustus 2026 - 17:13

KLH/BPLH Resmi Luncurkan Portal Satu Data, Wujudkan Tata Kelola Lingkungan yang Transparan dan Terintegrasi

27 Agustus 2026 - 08:04

Trending di Nasional