Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Kota Tangerang Selatan · 16 Mar 2026 ·

DLH Tangsel Rilis Hasil Pemantauan Lingkungan Pasca Kebakaran Gudang Kimia di Taman Tekno


 Penampakan Bangkai Ikan yang menumpuk menimbulkan bau tak sedap akibat Tercemarnya Sungai Cisadane, Rabu (11/02/2026). Foto: ist Perbesar

Penampakan Bangkai Ikan yang menumpuk menimbulkan bau tak sedap akibat Tercemarnya Sungai Cisadane, Rabu (11/02/2026). Foto: ist

Kota Tangsel – Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara menyeluruh pasca kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama yang berlokasi di Kawasan Taman Tekno BSD Serpong Blok K3 Nomor 37, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu.

Menindaklanjuti dugaan pencemaran di Sungai Jaletreng akibat kejadian tersebut, DLH Kota Tangerang Selatan bersama stakeholder terkait melakukan langkah penanganan serta pemantauan kualitas lingkungan secara bertahap.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, Bani Khosyatullah menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi lingkungan pasca kejadian kebakaran serta mengevaluasi dampak yang mungkin timbul.

“Kami melakukan pemantauan kualitas lingkungan dengan mengambil sampel pada beberapa kompartemen lingkungan, yaitu kualitas air permukaan, kualitas udara ambien, serta tingkat kebauan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh terkait kondisi lingkungan pasca kejadian kebakaran,” ujarnya pada Senin (16/3/2026).

Pemantauan Kualitas Air Sungai Jeletreng

Pemantauan kualitas air dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI dengan parameter utama pH, TSS, BOD, dan COD.

Hasil analisa laboratorium terhadap sampel air permukaan yang diambil pada 9 Februari, 10 Februari, dan 12 Februari 2026 menunjukkan adanya perubahan kualitas air pada pemantauan awal.

Pada 9 Februari 2026, beberapa parameter kualitas air menunjukkan:

pH sangat rendah atau bersifat asam dibandingkan baku mutu, peningkatan signifikan pada BOD dan COD, peningkatan nilai TSS.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan beban pencemar dalam waktu singkat yang diduga berasal dari limpasan air pemadaman kebakaran yang membawa residu bahan kimia pestisida ke badan air Sungai Jaletreng.

Bani menjelaskan bahwa perubahan kualitas air tersebut bersifat sementara dan terjadi pada fase awal kejadian.

“Dari hasil pemantauan yang kami lakukan, perubahan kualitas air yang terjadi bersifat episodik dan temporer, yang diduga berkaitan dengan masuknya residu pestisida bersama air pemadaman kebakaran. Seiring waktu, kualitas air menunjukkan kecenderungan membaik,” jelasnya.

Distribusi parameter pencemar menunjukkan nilai tertinggi pada segmen Sungai Jeletreng, kemudian menurun ke arah hilir hingga Sungai Cisadane. Pola tersebut menunjukkan adanya proses pengenceran alami atau natural dilution sepanjang aliran sungai.

Pemantauan lanjutan pada 10 Februari 2026 menunjukkan adanya penurunan konsentrasi parameter pencemar serta perbaikan kondisi kualitas air.

Sebagai langkah mitigasi, pada 12 Februari 2026 dilakukan penebaran beberapa material di Sungai Jeletreng, yaitu arang aktif, karbon, dan ecoenzym.

“Material tersebut memiliki sifat adsorptif dan biodegradatif yang dapat membantu menurunkan konsentrasi senyawa kimia organik di badan air. Dari hasil pemantauan lanjutan, terlihat adanya kecenderungan perbaikan kualitas air secara bertahap,” tambahnya.

Kualitas Udara dan Kebauan Masih Memenuhi Baku Mutu

DLH Kota Tangerang Selatan juga melakukan pemantauan kualitas udara ambien pada tiga titik pengukuran, yaitu: Up Wind, Area kegiatan PT Biotek Saranatama, Down Wind.

“Kami juga melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi kejadian. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, seluruh parameter masih berada di bawah baku mutu sehingga tidak teridentifikasi adanya pencemaran udara ambien yang signifikan,” kata Kepala DLH Tangsel.

Selain itu, pengujian tingkat kebauan juga dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 50 Tahun 1996 dengan parameter Amonia, Hidrogen Sulfida, Merkaptan, Methyl Sulfida, dan Styrene.

Hasil pengujian menunjukkan seluruh parameter masih berada di bawah baku mutu kebauan.

“Dari hasil pengujian tingkat kebauan, tidak terdeteksi adanya gangguan bau yang signifikan pada saat pemantauan dilakukan,” ujarnya.

Pengawasan dan Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil pemantauan terhadap beberapa kompartemen lingkungan, DLH Kota Tangerang Selatan menyimpulkan bahwa perubahan kualitas lingkungan yang paling signifikan terjadi pada kompartemen air permukaan, khususnya pada Sungai Jeletreng.

Sementara itu, kualitas udara ambien dan parameter kebauan di sekitar lokasi masih memenuhi baku mutu lingkungan.

DLH Kota Tangerang Selatan juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup terkait proses pengawasan lebih lanjut terhadap kejadian tersebut.[red]

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kasus Pencemaran Cisadane, Aktivis Desak KLH dan APH Tuntaskan: Tidak Ada Toleransi Bagi Kejahatan Lingkungan 

19 Mei 2026 - 08:57

Benyamin Harap Kadin Tangsel jadi Jembatan Aktif Dorong Pertumbuhan Ekonomi

18 Mei 2026 - 20:50

Tidak Bergabung Aglomerasi Tangerang Raya, Tangsel ‘Keukeuh’ Bangun PSEL Sendiri

17 Mei 2026 - 11:44

Bank Banten Perkuat Peran sebagai Penggerak Literasi Keuangan di Banten

10 Mei 2026 - 22:38

Gerakan ‘Banten Teduh Tangerang Sejuk’, Menanam Pohon Jadi Gaya Hidup

9 Mei 2026 - 10:46

Aktivis Lingkungan Desak APH Segera Tangkap Pencemar Sungai Cisadane 

8 Mei 2026 - 15:38

Trending di Kota Tangerang Selatan