Kota Tangsel – Sebelumnya ramai pemberitaan terkait penyakit ISPA akibat aktivitas Pembakaran sampah di wilayah Kota Tangserang Selatan, menyikapi hal tersebut Pemerintah Kota Tangsel telah mengambil tindakan tegas dan penanganan terukur sebagai bentuk upaya untuk mencegah aktivitas pembakaran sampah terulang kembali.
Belum surut pemberitaan ISPA, situs resmi AQAir merilis kondisi udara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) saat ini menjadi kota paling berpolusi di Indonesia pada periode tersebut dengan konsentrasi PM 2.5 60 (µg/m3), 28 persen lebih buruk ketimbang Ibu Kota DKI Jakarta.
Kualitas udara Kota Tangerang Selatan, khususnya warga Serpong di bulan Juli 2023 setara merokok 112 batang.
Tren ini sudah terjadi selama tiga bulan berturut-turut menurut data sensor Nafas, aplikasi pemantau kualitas udara di Indonesia. Bahkan, di Juli terjadi peningkatan dari sebelumnya Mei, konsentrasi PM 2.5 sebanyak 56 (µg/m3).
Selain warga Serpong, penduduk Pamulang dan Ciputat juga wajib waspada lantaran masuk 10 wilayah teratas dengan kualitas udara paling tidak sehat di Tangsel. Pamulang mencatat konsentrasi PM 2.5 di angka 65 (µg/m3), sementara Ciputat Timur di 57 (µg/m3).
Nafas mencoba menjabarkan sejumlah ‘biang kerok’ di balik tingginya polusi Tangsel dalam tiga bulan terakhir, ‘juara’ kota berpolusi di RI.
“Kualitas udara di suatu wilayah dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya sumber polusi hiperlokal di daerah tersebut, polusi PM 2.5 sekunder atau yang terbentuk di atmosfer, hingga sumber polusi bawaan dari daerah lain,” jelas keterangan tertulis nafas, Sabtu (12/8/2023).
“Saat ini belum ada penelitian khusus mengenai source apportionment (SA) di Tangerang Selatan, sehingga kita tidak bisa mengetahui dengan pasti apa saja dan berapa besar porsi suatu sumber polusi yang mencemari udara di suatu wilayah. Namun secara umum, sumber polusi udara sebagian besar berasal dari aktivitas manusia, bagaimana kita bergerak (transportasi), bagaimana kita memproduksi (industri), bagaimana kita menghasilkan daya (energi), hingga bagaimana kita mengelola limbah atau sampah,” Paparnya.
Sumber lainnya menurut Nafas berasal dari aktivitas alam seperti banyaknya laporan pembakaran sampah di sejumlah lokasi Tangsel. Faktor lain yang juga tak bisa dihindari adalah faktor meteorologis.
Kualitas udara buruk di Kota Tangsel dipengaruhi suhu panas dan masuknya musim kemarau. Inilah yang kemudian meningkatkan kondisi atmosfer sekitar Tangsel amat mendukung untuk ‘menjebak’ polutan dekat permukaan, sehingga kumpulan polusi menjadi tinggi dan tidak bergerak kemana pun.
“Selain itu, pergerakan sistem cuaca skala besar, contohnya badai laut (siklon tropis). Semakin melemah sistem ini dapat berkontribusi pada pelemahan angin di sekitar Tangsel. Di sisi lain, keberadaan lokasi geografis Tangsel pun kurang optimal bagi angin dari laut untuk masuk ke wilayah ini guna membantu ‘membersihkan’ polusi PM2.5 dengan menghamburkannya ke daerah lain,” Papar Nafas.
Menanggapi hal tersebut Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengklaim, hari ini kondisi kualitas udara terpantau berangsur membaik.
“Kondisinya bagus. Per hari ini ya saya dapat laporan dari kepala dinas lingkungan hidup,” Ungkapnya.
Benyamin menghimbau masyarakat Tangsel jangan khawatir kualitas udara di Kota Tangsel, karena data dari BMKG menunjukkan baik.
“Yang pasti ini data resmi dari BMKG, alatnya jelas dipasang di beberapa titik. Bagus udara kita jangan khawatir gitu lah ya,” tandasnya.
Kadis Lingkungan Hidup Tangerang Selatan (Tangsel) Wahyunoto memastikan kondisi kualitas udara di wilayahnya kondusif hari ini.
Menurut data yang dia himpun dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Stasiun Tangerang Selatan, Bumi Serpong Damai (BSD), per Kamis (10/8) pukul 09.58 WIB, udara di wilayah tersebut masih layak dihirup.
“Kondisi Tangsel kondusif. Tingkat kualitas udara masih dapat diterima kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan,” ujar Wahyunoto.
Wahyunoto mengatakan skor ISPU di Tangsel sekitar 94 yang menunjukkan udara di wilayah tersebut tidak tergolong berbahaya bagi manusia.
“Berdasarkan kadar PM 2.5 skor di Tangsel 94 sehingga termasuk dalam kategori sedang,” Pungkasnya. [red]