Yogyakarta – Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), Budi Setiawan, mengatakan bahwa nilai-nilai kerelawanan bukanlah sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah. Sejak awal, K.H. Ahmad Dahlan telah menanamkan spirit kerelawanan (bekerja untuk orang lain yang membutuhkan tanpa mengarapkan imbalan apa pun) sebagai nilai yang terus dihidupkan dalam tubuh Muhammadiyah khususnya MDMC itu sendiri.
“Kami melihat bahwa masalah kemanusiaan ini sangatlah luas. Maka dari itu, nilai-nilai agama harus terus diwujudkan dalam kebaikan yang nyata, sebagaimana gerakan kerelawanan itu sendiri,” ujar Budi.
Budi melihat bahwa kerelawanan di era sekarang tak hanya cukup berbasis niat baik, melainkan harus dijalankan secara terukur, terstruktur, dan tepat sasaran. Inilah yang menjadi standar utama MDMC dalam setiap operasi kebencanaannya.
“Relawan di lapangan harus benar-benar mengerti apa yang harus diberikan dan apa yang harus dilakukan. Ini bertujuan agar manfaat dari apa yang diberikan betul-betul tersalurkan. Artinya kita memberikan apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang kita punya,” tegasnya.
Hal kedua yang tak kalah penting menurut Budi dalam melakukan kinerjanya, Relawan MDMC juga dituntut untuk secara rutin melakukan asesmen yang bertujuan mengetahui kondisi pasti dari para penyintas bencana.
Bahkan, Budi turut mengungkap dalam suatu kasus kebencanaan yang terjadi, MDMC bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya ‘Aisyiyah untuk membangun fasilitas dapur wanita dan hunian sementara (Huntara) yang diberikan kepada masyarakat terdampak bencana.
“Jika air bersih tidak tersedia, maka kami berikan bantuan berupa makanan siap saji. Kebutuhan anak-anak dan lansia juga kami petakkan, termasuk juga kebutuhan khusus wanita,”jelasnya.
“Dalam beberapa situasi bahkan Muhammadiyah juga membangun dapur wanita bersama dengan ibu-ibu ‘Aisyiyah dan menyediakan Hunian Sementara (Huntara) bagi keluarga penyintas bencana. Ini perlu kami bantu karena kami sadar bahwa setiap keluarga embutuhkan privasinya sendiri, dan itu kami perhatikan,” sebut Budi.
Kemudian, sebagai tambahan informasi mengenai bencana yang terjadi di Sumatera, Budi turut mengungkap bahwa MDMC saat ini telah membentuk Pos Koordinasi Nasional (Poskor Nas) di setiap lokasi bencana. Skema ini akan memungkinkan jalannya koordinasi lebih cepat dan tepat di berbagai daerah terdampak bencana.
“Contohnya yang kita lakukan di Sumatera sekarang, dimana kami membagi area kerja di tiga provinisi. Ke depan, kita juga akan tetapkan wilayah mana saja yang paling membutuhkan,” jelasnya.
Terakhir dalam merespon hari relawan, Budi mengingatkan bahwa bencana akan terjadi kapan saja dan seringkali tanpa adanya pertanda. Karena itu, Relawan harus bekerja secara tangguh, dan siap merespon cepat adanya bencana.
Ia menegaskan, MDMC akan terus mengajak masyarakat untuk bersama memulihkan wilayah terdampak, sebagaimana pengalaman Muhammadiyah dalam merespon beberapa bencana besar yang terjadi di Indonesia seperti di Aceh, Palu, dan Yogyakarta.
“Pada masa tanggap darurat kita harus cepat menolong. Setelah itu, kita berpikir bagaimana mengembalikan dan memulihkan penyintas bencana ke posisi semula. Insyaallah dengan usaha ini masyarakat akan merasakan manfaat dari kerja-kerja kemanusiaan yang kita lakukan bersama,” tutup Budi.[red]











