Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Banten · 11 Mei 2026 ·

Hantavirus Terdeteksi Masuk Banten, Kenali Gejala, Mencegah dan Cara Mengobati


 Waspada Hantavirus. Foto: ist Perbesar

Waspada Hantavirus. Foto: ist

Tangerang – Hantavirus dilaporkan terdeteksi di wilayah Banten, termasuk area sekitar Kota Tangerang, dengan 23 kasus positif tercatat di Indonesia (2023-Mei 2026) dan 3 kematian.

Mengenal Hantavirus

Hantavirus adalah jenis virus zoonotik alias dapat ditularkan dari hewan ke manusia yang umumnya terkait dengan hewan pengerat sebagai reservoir alami. Hewan pengerat itu termasuk tikus yang banyak terdapat di tengah permukiman, terutama di kawasan padat penduduk. Sebagai reservoir, tikus dapat menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi hantavirus tanpa mengalami sakit. Namun ketika hantavirus itu menginfeksi manusia, manusia tersebut bisa sakit parah dan meninggal.

Adapun dalam peristiwa kapal pesiar hantavirus, penyebabnya jenis Andes virus. Menurut studi di Emerging Infectious Diseases, Andes virus atau hantavirus Andes adalah jenis hantavirus yang bisa menular antarmanusia. Virus ini ditemukan beredar di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Cile.

Seperti dijelaskan Badan Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus dapat menyebabkan beberapa sindrom penyakit. Di antaranya sindrom kardiopulmoner hantavirus (hantavirus cardiopulmonary syndrome/HCPS) yang mempengaruhi jantung dan paru-paru serta demam berdarah dengan sindrom ginjal (hemorrhagic fever with renal syndrome/HFRS) yang menyasar ginjal dan pembuluh darah. HCPS berkembang pesat di kawasan Amerika, sementara HFRS banyak dilaporkan di Eropa dan Asia.

WHO menyatakan umumnya pajanan hantavirus terhadap manusia terjadi ketika virus yang berada dalam urine, feses, atau ludah hewan pengerat terhirup atau masuk melalui kontak dengan material yang terkontaminasi. Misalnya ketika manusia membersihkan ruangan di rumah yang menjadi sarang tikus.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hantavirus sudah lama ada di Indonesia sejak 1980-an. Menurut Kementerian Kesehatan, setidaknya satu dari 10 orang pernah terpapar virus ini meski mungkin tak terdiagnosis. Meski bukan penyakit baru seperti Covid-19, infeksi hantavirus bisa berkembang menjadi ancaman kesehatan bagi publik. Terlebih banyak dari kita yang kerap tak menyadari keberadaan virus tersebut di lingkungan sekitar.

Kementerian Kesehatan mencatat jenis hantavirus yang paling kerap didapati di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV). Virus ini bisa menyebar lewat tikus rumah yang hidup di tengah aktivitas manusia sehingga lebih mudah menular di masyarakat.

Gejala Hantavirus

Gejala hantavirus sulit diidentifikasi secara langsung karena mirip dengan penyakit lain seperti flu pada umumnya. Gejala biasanya baru muncul dalam 1-8 pekan setelah paparan virus. Berikut ini biasanya tahap gejala hantavirus:

Tahap Awal

  • Demam dan menggigil
  • Nyeri otot hebat, terutama di paha, pinggul, punggung, dan bahu
  • Sakit kepala dan pusing
  • Mual, muntah, atau diare

Tahap Kritis

  • Batuk kering terus-menerus
  • Sesak napas yang makin lama makin parah
  • Dada terasa tertekan seperti ditekan benda berat
  • Detak jantung tak teratur

Adapun bila infeksi menyerang ginjal dan pembuluh darah, gejala fase kritis yang muncul termasuk:

  • Tekanan darah rendah
  • Perdarahan
  • Gangguan aliran darah (syok)
  • Gagal ginjal akut

Pada fase kritis inilah, jika tanpa perawatan intensif, infeksi hantavirus bisa berakibat fatal dalam 24-48 jam. Namun, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), jika pasien berhasil melewati fase kritis, proses pemulihannya tergolong cepat.

Penyebab Hantavirus

Hantavirus tinggal di dalam tubuh hewan pengerat, terutama tikus, tanpa membuatnya sakit. Adapun sindrom penyakit akibat infeksi hantavirus disebabkan oleh kontak langsung atau menghirup udara yang terkontaminasi virus tersebut, yang umumnya terdapat dalam urine, kotoran, atau ludah tikus yang terinfeksi.

Penularan bisa terjadi antara lain ketika:

  • Virus terhirup dan langsung masuk ke paru-paru saat menyapu kotoran tikus yang kering.
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi virus lalu tanpa sadar menyentuh hidung atau mulut.
  • Tergigit tikus yang terinfeksi, meski sangat jarang terjadi.

Virus ini bisa menular tanpa kontak langsung dengan tikus karena yang menjadi sumber virus adalah sekresi yang bisa mengering dan kemudian partikelnya yang terbawa udara. Meski begitu, gigitan atau cakaran tikus bisa juga menyebabkan infeksi hantavirus walau jarang terjadi. Penularan antarmanusia juga dapat terjadi lewat kontak dekat berkepanjangan seperti dalam peristiwa kapal pesiar hantavirus Andes.

Cara Dokter Mendiagnosis Hantavirus

Karena gejala sindrom hantavirus mirip flu biasa, sulit untuk memastikan penyakit ini dengan segera. Terlebih dalam situasi seperti di kapal pesiar hantavirus bisa menjadi wabah dengan cepat. Dokter biasanya akan curiga ketika pasien datang dengan demam plus sesak napas serta ternyata punya riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang kotor.

Proses diagnosisnya meliputi:

  • Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan, termasuk pengecekan kadar trombosit dan kekentalan darah.
  • Tes serologi (ELISA) yang merupakan standar emas diagnosis hantavirus. Dokter akan mengambil sampel darah untuk mendeteksi antibodi IgM (benteng tubuh melawan virus).
  • PCR (polymerase chain reaction) untuk mencari materi genetik virus secara langsung, biasanya dilakukan jika pasien terdiagnosis di fase sangat awal.

Kalau curiga ada hantavirus, dokter akan segera merujuk pasien ke unit perawatan intensif atau ICU meskipun hasil lab belum keluar. Sebab, perawatan pasien infeksi hantavirus harus berburu dengan waktu karena kondisi pasien bisa memburuk dengan sangat cepat.

Cara Mengatasi Hantavirus

Tidak obat yang secara spesifik dapat menyembuhkan pasien infeksi hantavirus. Perawatan utama bersifat suportif atau dukungan terhadap fungsi organ. Tim medis akan memfokuskan perawatan suportif pada pemantauan serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal yang penting untuk meningkatkan peluang bertahan hidup pasien.

Bentuk perawatan suportif itu bergantung pada gejala yang muncul antara lain:

  • Pemberian oksigen dan penggunaan ventilator untuk membantu pernapasan
  • Pemantauan sirkulasi darah
  • Terapi cairan infus secara ketat
  • Penggunaan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) terutama ketika fungsi jantung dan paru-paru sudah mulai berhenti
  • Penanganan dini penyakit hantavirus dengan peralatan memadai seperti yang tersedia di rumah sakit sangatlah penting demi mencegah jatuhnya korban jiwa seperti dalam kasus kapal pesiar hantavirus baru-baru ini.

Komplikasi Hantavirus

Komplikasi hantavirus sangat bergantung pada jenis sindrom yang dialami apakah HCPS atau HFRS serta seberapa cepat perawatan suportif dimulai. Komplikasi yang bisa muncul antara lain:

Komplikasi HCPS

Karena hantavirus dapat menyebabkan perubahan serius pada paru, komplikasi yang sering dikhawatirkan adalah:

  • Memburuknya sesak napas
  • Gagal napas
  • Syok atau gangguan sirkulasi darah yang berhubungan
  • Detak jantung tak teratur
  • Serangan jantung

Komplikasi HFRS

Pada HFRS, komplikasi yang menjadi perhatian meliputi:

  • Gangguan fungsi ginjal hingga gagal ginjal
  • Perdarahan hebat dan gangguan sistemik lain
  • Tekanan darah turun drastis

Pencegahan Hantavirus

Karena hantavirus lebih sering menyebar lewat tikus, fokus utama pencegahan adalah mencegah tikus berkembang biak di lingkungan tempat tinggal kita dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. CDC memiliki panduan pencegahan hantavirus dengan metode Seal Up, Trap Up, dan Clean Up:

Seal Up (Rapatkan)

Cari dan tutup semua lubang di rumah yang lebih besar dari diameter pensil. Tikus bisa masuk lewat celah sekecil itu.

Simpan makanan dalam wadah plastik tebal, logam, atau kaca yang tertutup rapat.

Segera bersihkan makanan yang tumpah. Lekas cuci piring dan peralatan masak setelah digunakan.

Simpan makanan hewan peliharaan setelah digunakan. Jangan biarkan mangkuk makanan atau air berada di luar semalaman

Simpan sampah dalam wadah plastik tebal atau logam yang tertutup rapat.

Trap Up (Perangkap)

Pasang perangkap tikus di area yang diduga menjadi tempat aktivitas tikus.

Bila memakai umpan beracun yang berbahaya bagi manusia dan hewan, letakkan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh anak-anak dan hewan peliharaan.

Periksa umpan setiap minggu dan isi ulang atau pindahkan sesuai dengan kebutuhan selama minimal 15 hari.

Clean Up (Bersihkan)

Ini yang kerap keliru dipraktikkan. Cara membersihkan yang disarankan untuk mencegah penularan hantavirus adalah:

Hindari menyapu atau menggunakan vacuum cleanerpada kotoran tikus karena justru bisa membuat virus beterbangan.

Cara yang aman: semprot kotoran, sarang, atau bangkai tikus dengan larutan pemutih (bleach) atau disinfektan. Diamkan selama 5-10 menit. Lap dengan tisu atau kain bekas dan masukkan ke kantong plastik ganda dan buang. Setelah itu, cuci tangan sampai bersih.

Kapan Harus ke Dokter?

Berkaca pada insiden kapal pesiar hantavirus, jangan menunggu sampai mengalami sesak napas. Terlebih ada kemungkinan infeksi hantavirus Andes yang bisa menular antarmanusia.

Jika merasakan gejala demam tinggi disertai nyeri otot yang luar biasa (terutama di bagian paha dan pinggang) serta ada riwayat terpapar tikus atau kotorannya dalam 1-2 bulan terakhir, segera datangi rumah sakit. Diagnosis dan perawatan dini sangat penting dalam penanganan hantavirus karena penyakit ini bisa berkembang dengan sangat cepat hingga berakhir fatal.

Sumber: primayahospital.com

Ditijau oleh: dr. Wahyu Purnama, Sp.PD, AIFO-K, FISQua, FRSPH, FIHFAA – Spesialis Penyakit Dalam Primaya Evasari Hospital

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wisata Serok Sampah Cisadane, Cara Banksasuci Edukasi Masyarakat dalam Komunikasi Perubahan Perilaku

10 Mei 2026 - 14:50

Serius Atasi Banjir Tangerang, Gubernur Andra Soni Percepat Normalisasi Sungai dan Situ

9 Mei 2026 - 23:31

Bank Banten Dukung Gebyar Talenta Siswa dan Berikan Apresiasi Siswa Berprestasi

9 Mei 2026 - 22:08

Pertama di Indonesia, Mendikdasmen Apresiasi Pemprov Banten Bentuk Pokja Sekolah Aman dan Nyaman

9 Mei 2026 - 21:34

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Apresiasi Terobosan Andra Soni Gratiskan Sekolah Swasta di Banten

9 Mei 2026 - 18:13

Gerakan ‘Banten Teduh Tangerang Sejuk’, Menanam Pohon Jadi Gaya Hidup

9 Mei 2026 - 10:46

Trending di Banten