JAKARTA – Kisah cinta tak selalu berjalan sederhana, terlebih ketika masa lalu dan rahasia keluarga ikut menentukan arah sebuah hubungan. Situasi itulah yang dihadirkan Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono dalam film terbaru Yang Datang dan Yang Pergi.
Menggabungkan romansa, pengkhianatan, dan konflik lintas generasi, film garapan Nurman Hakim dan Nan Achnas ini mengajak penonton menyelami cerita sebuah keluarga yang menyimpan banyak kenangan.
Dian memerankan Sinta, sementara Roy berperan sebagai Banawan, sahabat masa kecil Sinta yang kembali hadir ketika keduanya telah dewasa. Pertemuan tersebut membawa kembali kenangan lama sekaligus menghadirkan dinamika hubungan yang tidak sederhana.
Cerita berpusat pada sebuah rumah penginapan tua milik keluarga Sinta. Bangunan itu menyimpan berbagai rahasia dan kenangan dari orang-orang yang pernah datang dan pergi. Setiap kehadiran membawa harapan, cinta, bahkan pengkhianatan yang meninggalkan jejak dalam kehidupan Sinta dan keluarganya.
Kisah film ini bergerak melalui tiga periode waktu, yakni 1965, 1999, dan 2026. Perjalanan lintas generasi tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman dan keputusan masa lalu dapat memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
Cinta yang Bertemu dengan Rahasia Masa Lalu
Hubungan Sinta dan Banawan menjadi salah satu daya tarik cerita. Banawan merupakan sahabat masa kecil yang kembali hadir dalam kehidupan Sinta setelah sekian lama. Kehadirannya mempertemukan kembali dua orang yang memiliki sejarah bersama, tetapi kini harus menghadapi kehidupan yang telah berubah.
Bagi Roy, Banawan merupakan sosok dari masa lalu Sinta yang kembali ketika keduanya telah dewasa. Rumah penginapan tua menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus tempat sejarah keluarga memengaruhi generasi berikutnya.
Film ini juga menandai kolaborasi pertama Dian Sastrowardoyo dan Roy Sungkono sebagai pasangan romantis di layar lebar.
Konflik Keluarga yang Melintasi Tiga Generasi
Di balik kisah romansa, Yang Datang dan Yang Pergi mengangkat persoalan tentang warisan masa lalu dan pilihan hidup. Sutradara sekaligus penulis film, Nurman Hakim, menjelaskan bahwa cerita ini mengeksplorasi bagaimana masa lalu membentuk seseorang, serta bagaimana seorang perempuan menghadapi warisan yang diterimanya untuk menentukan masa depan.
Menurut Nurman, setiap generasi mewarisi cerita, tetapi tidak berarti harus mengulang akhir yang sama.
Sementara itu, Nan Achnas menyoroti pilihan setiap generasi dalam menentukan hal-hal yang ingin dipertahankan maupun ditinggalkan. Ia juga menekankan bahwa perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Nan menilai Dian mampu menggambarkan perjalanan Sinta dalam berbagai fase kehidupan. Karakter tersebut memperlihatkan pergulatan seorang perempuan ketika harus berhadapan dengan warisan masa lalu sekaligus menentukan arah kehidupannya.
Bagi Dian, Sinta bukan sekadar penerima cerita dan keputusan generasi sebelumnya. Ia merupakan individu yang memiliki pilihan atas masa depannya. Karakter tersebut, menurut Dian, merefleksikan pengalaman banyak perempuan dalam menghadapi kehidupan.
Reuni Dian Sastrowardoyo dengan Nurman Hakim dan Nan Achnas
Film ini juga menjadi ajang reuni Dian Sastrowardoyo dengan dua sineas yang pernah bekerja sama dengannya. Dian kembali berkolaborasi dengan Nurman Hakim setelah film 3 Doa 3 Cinta (2008), serta dengan Nan Achnas setelah Pasir Berbisik (2001).
Selain Dian dan Roy, film ini turut dibintangi Dimas Aditya, David Ari Wibowo, dan Retno Soetarto. Dimas juga kembali bekerja sama dengan Nurman Hakim setelah film Bid’ah Cinta (2017).
Yang Datang dan Yang Pergi disutradarai, ditulis, dan diproduseri oleh Nurman Hakim serta Nan Achnas. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Desember 2026.
Melalui kisah cinta yang dibayangi rahasia keluarga, film ini mengajak penonton melihat bahwa hubungan antarmanusia tidak pernah sepenuhnya terlepas dari masa lalu. Ada kenangan yang tetap tinggal, ada persoalan yang diwariskan, dan ada pilihan yang harus diambil untuk menentukan masa depan. [Red]












