Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Edukasi · 23 Jun 2025 ·

Catatan Arman Alwi: Perang Israel-Iran, Antara Mitos Agama dan Hegemoni Imperialisme


 Bendera Israel dan Iran. Foto: ist Perbesar

Bendera Israel dan Iran. Foto: ist

Artikel – Ketika rudal melintas di atas Tel Aviv dan drone meledak di langit Teheran, banyak yang melihatnya sebagai sekadar konflik dua negara bermusuhan. Namun jika kita menilik lebih dalam, perang antara Israel dan Iran hari ini bukan hanya soal geopolitik biasa, melainkan pertarungan antara dua kekuatan besar yang bersandar pada fondasi ideologis dan struktur kekuasaan global yang lebih kompleks. Dalam dua kerangka berpikir yang berbeda namun saling melengkapi, Karen Armstrong dan Noam Chomsky memberikan lensa tajam untuk membaca perang ini dengan kedalaman sejarah, teologi, dan politik dunia.

Karen Armstrong: Kebangkitan Mitologi yang Dipersenjatai

Dalam The Battle for God, Karen Armstrong menjelaskan bagaimana fundamentalisme agama modern bukanlah kembalinya masa lalu, melainkan bentuk respons modern terhadap modernitas itu sendiri. Dalam kerangka ini, baik Israel maupun Iran menggunakan “mythos” — narasi keagamaan sakral — untuk memaknai realitas dan konflik. Ketika nilai-nilai logos (ilmu, sekularisme, rasionalitas) mendominasi ruang publik, kelompok keagamaan merasa terancam dan meresponsnya dengan menguatkan identitas religius secara ekstrem, bahkan militan.

Iran, sejak Revolusi Islam 1979, telah memadukan institusi negara modern dengan ideologi keagamaan Syiah. Para pemimpinnya, termasuk Ali Khamenei dan para ulama garis keras, menyematkan makna spiritual pada konflik dengan Israel, sering menyebutnya sebagai “perang melawan kezaliman global” dan membingkainya dalam kerangka eskatologis: menanti kemunculan Imam Mahdi.

Sementara itu, Israel juga mengalami transformasi identitas religius. Pengaruh kelompok Yahudi Ortodoks dan Zionis religius makin besar dalam menentukan kebijakan politik. Pendudukan wilayah Palestina dan serangan terhadap negara-negara sekitar tidak jarang dilandasi pada narasi teologis tentang Tanah yang Dijanjikan dan eksistensi bangsa pilihan.

Dalam sudut pandang Armstrong, perang ini adalah “konfrontasi antara dua mitos sakral yang dimodernkan dan dipersenjatai”. Ia bukan semata perang teritorial, tapi perang identitas yang membangkitkan memori purba untuk melawan ancaman modernitas yang dianggap mengikis makna hidup.

Noam Chomsky: Perang sebagai Proyek Imperialisme

Sementara Armstrong memotret sisi teologis-kultural, Noam Chomsky — dalam buku seperti Fateful Triangle dan Hegemony or Survival — memetakan peta kekuasaan global yang membuat konflik semacam ini terus terjadi. Chomsky tidak melihat perang Israel-Iran sebagai benturan agama, tetapi sebagai konsekuensi logis dari tatanan dunia hegemonik yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Bagi Chomsky, Israel adalah klien strategis utama AS di Timur Tengah. Dukungan tak terbatas Washington — baik berupa dana militer, veto di PBB, maupun legitimasi moral — menjadikan Israel sebagai wakil kepentingan imperialisme AS di kawasan. Sementara itu, Iran dilihat sebagai kekuatan yang “tidak bisa dikendalikan” — sebuah negara yang berani keluar dari orbit dominasi Barat sejak 1979, dan karena itu menjadi musuh permanen.

Dalam perang hari ini, narasi media internasional mengikuti pola Manufacturing Consent: Iran digambarkan sebagai ancaman eksistensial, pendukung terorisme, dan rezim teokratis represif; sementara Israel, meski menyerang wilayah negara lain dan memblokade Gaza secara brutal, digambarkan sebagai negara demokrasi yang membela diri.

Menurut Chomsky, ini bukan hanya perang senjata, tapi juga perang narasi. Ia menyebut bahwa konflik-konflik seperti ini dimanfaatkan oleh elit global untuk menggiring opini publik agar mendukung ekspansi militer, menjual senjata dan meningkatkan anggaran militer serta menjaga dominasi pasar energi dan jalur dagang.

Dua Lensa, Satu Kenyataan

Ketika dua lensa ini digabungkan, kita melihat kenyataan pahit: perang Israel-Iran adalah hasil dari pertemuan antara ideologi keagamaan yang dimodernisasi secara agresif dan arsitektur dominasi kekuasaan global yang mempertahankan ketimpangan.

Armstrong menunjukkan bagaimana agama dimanfaatkan sebagai pelindung makna dalam dunia yang kehilangan spiritualitasnya, sementara Chomsky menyingkap bagaimana para penguasa dunia menggunakan agama dan ketakutan sebagai alat untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan melanggengkan dominasi.

Jika dunia ingin keluar dari siklus perang ini, maka kita harus menang dalam dua hal sekaligus: mengembalikan agama pada ruang kontemplasi dan welas asihnya — bukan pada medan perang kekuasaan saling mematikan. Sementara itu kekuatan civil society harus kritis atas praktek panjang propaganda Amerika untuk dominasi global sambil melanggengkan ketimpangan dan ketidakadilan. Selain itu, inisiatif gerakan civil society mesti diarahkan serentak untuk mendukung agenda mendorong kekuatan multipolar yang telah dimulai beberapa negara seperti agenda BRIC’S yang lebih menghargai kesetaraan, pendekatan damai dan pro kemajuan.

Penulis: Arman Alwi – Lembaga CSN (Celoteh Suara Nusantara) 

Artikel ini telah dibaca 194 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gubernur Andra Soni Komitmen Perkuat Pendidikan Antikorupsi di Seluruh Jenjang Pendidikan

11 Mei 2026 - 15:54

Bupati Tangerang Luncurkan Buku Cerita “Mangrove Penyelamat Pantai”

4 Mei 2026 - 15:33

A.Zaki Iskandar: Politeknik Ismet Iskandar Adalah Lembaga Pendidikan Inklusif dan Terjangkau

2 Mei 2026 - 23:39

Softlauncing Politeknik Ismet Iskandar Indonesia, Kampus Pencetak Pemimpin Masa Depan

2 Mei 2026 - 16:12

Hardiknas 2026, Program Sekolah Gratis Berdampak Pada Meningkatnya IPM dan RLS Provinsi Banten

2 Mei 2026 - 10:08

Mahasiswa UNPAM Gelar PKM di Cilegon: Dorong Literasi Politik Remaja Lewat Media Sosial

23 April 2026 - 16:47

Trending di Banten