Cilegon – Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Serang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMA Al-Khairiyah 1 Cilegon, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema “Media Sosial sebagai Alat Edukasi Politik di Kalangan Remaja: Analisis Peran Media Sosial dalam Membentuk Kesadaran Politik Remaja.”
PKM merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengaplikasikannya secara langsung di tengah masyarakat.
Tim pelaksana PKM diketuai oleh Imam Agusti, dengan anggota Awal Nurrizky, Siti Annisa Safitri, dan Aistia Datunniha. Kegiatan ini turut didampingi oleh dosen pembimbing, Cusdiawan, S.Hum., M.I.Pol., yang menyampaikan pentingnya keberlanjutan program PKM sebagai arena belajar mahasiswa sekaligus upaya untuk terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah masyarakat.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bagaimana media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, termasuk dalam membentuk pemahaman politik. Mereka menekankan bahwa remaja saat ini sering kali terpapar isu politik baik secara langsung maupun tidak langsung melalui berbagai platform media sosial.
“Media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini dan sikap politik generasi muda. Namun, jika tidak disertai literasi yang baik, hal ini justru bisa berdampak negatif,” ujar Imam Agusti selaku pemateri.
Selain itu, materi yang disampaikan juga menyinggung pentingnya penerapan prinsip manajemen dalam kehidupan sehari-hari serta kaitannya dengan pengambilan keputusan yang rasional, termasuk dalam konteks politik.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang melibatkan para siswa. Sejumlah pertanyaan kritis diajukan oleh peserta terkait fenomena media sosial dan politik.
“Bagaimana cara remaja melindungi diri dari hoaks dan disinformasi politik yang sering terjadi menjelang pemilu? (Zakiyatul).”
Remaja dapat melindungi diri dengan meningkatkan literasi digital, seperti memverifikasi informasi dari sumber terpercaya, tidak langsung menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, serta membandingkan informasi dari berbagai media. Selain itu, penting untuk memahami ciri-ciri hoaks, seperti judul provokatif, sumber tidak jelas, dan data yang tidak valid.
“Bagaimana strategi yang efektif untuk meningkatkan literasi digital remaja yang valid? (Ashiatul).”
Strategi yang efektif antara lain melalui edukasi berbasis praktik, seperti pelatihan cek fakta, diskusi interaktif, serta pemanfaatan konten edukatif di media sosial. Peran sekolah, keluarga, dan pemerintah juga penting dalam menyediakan akses informasi yang kredibel dan membangun budaya berpikir kritis sejak dini.
“Bagaimana media sosial mengubah cara remaja memahami politik dibandingkan media konvensional? (Samar).”
Media sosial membuat informasi politik lebih cepat, interaktif, dan mudah diakses dibandingkan media konvensional. Remaja tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga bisa menjadi produsen konten. Namun, hal ini juga membawa tantangan, seperti risiko disinformasi dan polarisasi, sehingga diperlukan kemampuan analisis yang lebih kritis.
Selanjutnya melalui kegiatan ini, mahasiswa UNPAM berharap dapat meningkatkan kesadaran politik remaja sekaligus mendorong pemanfaatan media sosial secara bijak. Dengan literasi digital yang baik, generasi muda diharapkan mampu menjadi individu yang kritis, rasional, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
Kegiatan PKM ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang melek informasi dan siap menghadapi tantangan di era digital.[Mam]











