Tangerang – Para peneliti dari University of Queensland, menulis di The Conversation bahwa melestarikan hutan mengrove dengan mendeklarasikan taman dan kawasan lindung lainnya merupakan solusi yang logis.
“Namun sering kali, suatu negara menganggap kawasan yang dilindungi sebagai sebuah kerugian, membatasi pemanfaatannya oleh manusia, dan mengabaikan manfaatnya bagi manusia,” tulis The Conservation.
Mangrove juga berperan sebagai cara alami untuk mengatasi perubahan iklim. Akarnya memerangkap sedimen, mengubur karbon anorganik dan organik dalam prosesnya.
Mangrove juga menyimpan karbon dalam biomassanya. Secara keseluruhan, hutan laut ini menyimpan karbon hampir tiga kali lipat dibandingkan hutan hujan tropis, dua kali lipat dibandingkan rawa gambut, dan hampir tujuh kali lipat dibandingkan lamun.
“Penelitian baru kami menunjukkan bahwa Anda tidak harus memilih antara alam dan manusia. Melindungi hutan mangrove merupakan sebuah solusi yang saling menguntungkan, mengingat betapa berharganya hutan mangrove bagi masyarakat pesisir, nelayan, dan perjuangan melawan perubahan iklim,”
Kawasan lindung merupakan cara yang baik untuk mengurangi hilangnya hutan mangrove. Ketika pemerintah berencana untuk menciptakan kawasan ini, tujuannya biasanya adalah untuk melindungi keanekaragaman hayati sekaligus meminimalkan konflik dengan pemanfaatan oleh manusia.
“Dalam penelitian kami, kami menemukan bahwa jaringan kawasan lindung di seluruh dunia tidak berfungsi dengan baik dalam melindungi keanekaragaman hayati mangrove atau manfaat ekosistem yang diberikan oleh mangrove.” tulis tim penelti. “Faktanya, ini tidak lebih baik daripada hanya memilih area secara acak.”
Bahkan lebih baik lagi, tim peneliti menemukan bahwa optimalisasi konservasi keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem hanya memerlukan 3–9% lebih banyak kawasan yang dilindungi dibandingkan dengan kawasan perlindungan mangrove yang hanya berdasarkan pada penyelamatan spesies saja.[natgeoindonesia]












