Kabupaten Tangerang – Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica Pada 11 Maret 2011 sekitar 18.500 jiwa meninggal dunia, 10.800 orang hilang, dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka akibat gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9 yang memicu tsunami setinggi 40 meter meluluhlantahkan kawasan pesisir Jepang.
Indonesia, sebagai negara yang sering mengalami gempa seperti Jepang, tentu akan belajar dari tragedi dahsyat gelombang tsunami terlebih menghadapi Megathrust dengan melakukan upaya kesiapsiagaan bencana salahsatunya adalah menggencarkan penanaman mangrove sebagai green belt alami upaya mitigasi berbasis ekosistem di pesisir pantai.
Mangrove Green Belt Alami Pesisir Pantai
Karakteristik perakaran mangrove yang padat, batangnya yang rapat, serta tajuknya yang tinggi menciptakan pembatas fisik alami antara daratan dan lautan mampu menjadi benteng alami.
Hutan mangrove yang lebat dengan lebar minimal 200 meter terbukti efektif meredam energi gelombang ekstrem, termasuk memitigasi dampak bencana tsunami.
Akar mangrove mencengkeram sedimen lumpur dengan sangat kuat, mengikat tanah agar tidak terkikis oleh hantaman ombak dan pasang surut air laut mampu menjadi penahan abrasi dan erosi.
Selain meredam gelombang tsunami, Mangrove sebagai Sabuk hijau alami ini membantu mengendapkan lumpur dan menyaring air, sehingga mencegah air asin merembes lebih jauh ke dalam cadangan air tanah di daratan.

Untuk mempertahankan fungsi perlindungan ini, pendekatan Rehabilitasi Mangrove Ekologis (EMR) kini lebih diutamakan. Pendekatan ini tidak sekadar menanam bibit baru, melainkan memperbaiki aliran air dan kondisi lahan agar buah (propagul) mangrove dapat tumbuh dan beregenerasi secara mandiri. [red]












