Menu

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Nasional · 2 Jan 2026 ·

Tahun Ini Pajak Karbon Mulai Berlaku, Aktivis Lingkungan: Target Net Zero Emission Tahun 2060 Bisa Tercapai


 Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Ade Yunus bersama aktivis lainya saat menanam Ribuan Bibit Mangrove di Pantai Api-Api Mauk Barat Kabupaten Tangerang. Foto: TangerangPos Perbesar

Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Ade Yunus bersama aktivis lainya saat menanam Ribuan Bibit Mangrove di Pantai Api-Api Mauk Barat Kabupaten Tangerang. Foto: TangerangPos

Tangerang – Sejak akhir tahun 2021 implementasi pajak karbon terus ditunda hingga akhir tahun 2025. akhirnya pada Tahun 2026 Pemerintah Republik Indonesia mulai mengimplementasikan pajak karbon yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Perpajakan.

Pajak karbon merupakan pajak yang dikenakan atas emisi karbon yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan hidup. Pajak karbon dikenakan atas penggunaan bahan bakar fosil seperti bensin, avtur, gas, dan lain-lain.

Pajak ini salah satunya bertujuan untuk mendukung target pengurangan emisi karbon sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Tarif Pajak Karbon

Untuk diketahui dalam Undang-Undang Harmonisasi Perpajakan mencatat bahwa tarif pajak karbon paling rendah adalah Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen.

Tarif tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari usulan awal Rp 75. Dengan tarif Rp 30, Indonesia termasuk negara dengan tarif terendah di dunia untuk urusan pajak karbon.

Sebagai contoh, jika Pembangkit Listrik menghasilkan 100.000 ton emisi CO2e Per Tahun maka setelah dikonversi ke Kilogram menjadi 100 juta Kg kemudian dikalikan tarif pajak karbon Rp30/Kilogram, sehingga pajak karbon yang harus dibayar adalah Rp3 Milyar/Tahun.

Skema Cap and Tax

Penetapan pajak karbon di Indonesia memakai skema cap and tax atau mendasarkan pada batas emisi. Terdapat dua mekanisme yang bisa digunakan Indonesia, yaitu menetapkan batas emisi yang diperbolehkan untuk setiap industri atau dengan menentukan tarif pajak yang harus dibayarkan setiap satuan tertentu.

Secara umum, skema cap and tax ini mengambil jalan tengah antara skema carbon tax dan cap-and-trade yang lazim digunakan di banyak negara. Modifikasi skema pajak karbon tentu diperlukan karena ada perbedaan ekosistem industri antar wilayah, termasuk respons publik terhadap aturan baru tersebut.

Respon terhadap Pemberlakuan CBAM oleh Uni Eropa

CBAM atau Carbon Border Adjustment Mechanism adalah mekanisme penyesuaian karbon yang mewajibkan importir membayar biaya tambahan sesuai jejak emisi karbon dari produk yang mereka Bawa ke Uni Eropa.

Harga sertifikat CBAM akan mengikuti EU Emission Trading System (ETS) dan setrlara dengan jumlah emisi yang terverifikasi.

Dukungan Aktivis Lingkungan 

Aktivis Lingkungan Hidup, Ade Yunus mendukung langkah Pemerintah dalam menerapkan Pajak Karbon sebagai salahsatu upaya nyata pengurangan emisi karbon atau net zero emission (NZE) yang ditargetkan pada tahun 2060.

“Dengan diberlakukanya Pajak karbon, maka mendorong BUMN maupun juga perusahaan swasta untuk mengulangi karbon, sehingga target net zero emission tahun 2060 itu bisa tercapai,” Ungkap Ade, Jum’at (02/01/2025).

Koordinator Gerakan ‘Banten Teduh, Tangerang Sejuk’ tersebut mengatakan bahwa penerapan pajak karbon berdampak nyata pada upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Inikan keadilan lingkungan, dimana Prinsip Pencemar Membayar (Polluter Pays Principle) pihak yang menyebabkan polusi dan kerusakan lingkungan harus menanggung biaya untuk kerusakan yang ditimbulkannya,” Sambungnya.

Ketua Yayasan Bangsa Suci Indonesia (Banksasuci Foundation) tersebut menambahkan bahwa pendapatan dari pajak karbon dapat dialokasikan kembali untuk mendanai proyek-proyek mitigasi perubahan iklim, adaptasi, dan transisi ke ekonomi hijau yang adil, sehingga memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan masyarakat.

“Kami mendukung namun kami akan mengawasi untuk memastikan dana pajak karbon digunakan secara transparan untuk tujuan lingkungan, bukan hanya untuk pendapatan umum negara,” Tutupnya. [red]

Artikel ini telah dibaca 168 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sejak Dinyatakan Hilang, Presiden Prabowo Intruksikan KSAL Kerahkan 11 Kapal Gabungan Lakukan Pencairan

10 September 2026 - 19:21

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir: Percayalah, Masih Banyak Polisi Baik

9 September 2026 - 19:30

Sekjen Forum Pimred Multimedia Dukung Personil Gabungan Maksimalkan Pencarian 5 Wartawan 

9 September 2026 - 16:22

Sufmi Dasco: Pedagang Kaki lima adalah Wajah Ekonomi Rakyat yang Terus Bergerak

3 September 2026 - 08:37

Aktivis Peduli Sungai Tolak Gagasan Menteri PKP Bangun Rumah Susun Diatas Sungai: Ide Konyol!

31 Agustus 2026 - 08:19

KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

30 Agustus 2026 - 07:03

Trending di Nasional