Lebak – Puteri asal Banten Selatan khususnya Lebak, Ratu Nisya Yulianti, masuk dalam bursa calon Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2027–2029.
Dalam pencalonannya, wanita kelahiran Lebak 5 Juli 2000 itu, membawa gagasan bertajuk 8 Pilar Kohati untuk Indonesia.
Gagasan ini menitikberatkan pada penguatan organisasi, peningkatan kualitas kader, pemerataan kesempatan, serta perluasan peran perempuan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Menurut anak dari pasangan almarhum Tohirin, dan almarhumah Nahdoh Sulaeman itu, penguatan Kohati tidak cukup hanya dilakukan dengan menambah program kerja.
Ia menilai, organisasi perlu memastikan setiap program menjawab kebutuhan kader dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Bagi saya, penguatan Kohati bukan sekadar memperbanyak program kerja, tetapi bagaimana organisasi mampu menjawab kebutuhan kader dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” Ungkapnya, Jum’at (23/10/2026).
“Kohati harus menjadi ruang bagi perempuan untuk tumbuh, mandiri, mengambil peran dalam berbagai bidang, serta Kohati harus dikembalikan fungsionalitasnya,” sambungnya.
Lebih lanjut Ratu Nisya menjelaskan, bahwa delapan pilar yang ditawarkannya meliputi Kohati Akses, Kohati Tumbuh, Kohati Mengabdi, Kohati Mandiri, Kohati Cerdas Digital, Kohati Berdaulat, Kohati Terhubung, dan Kohati Lestari.
Kohati Akses dan Kohati Tumbuh diarahkan untuk memperluas kesempatan kader mengembangkan diri sekaligus memperkuat koordinasi organisasi, karena harus dipahami tidak semua daerah memiliki kesempatan akses yang sama.
Kohati Mengabdi dan Kohati Mandiri mendorong pengabdian kepada masyarakat serta kemandirian ekonomi perempuan.
Sementara itu, Kohati Cerdas Digital menitikberatkan pada literasi dan keamanan digital. Kohati Berdaulat mendorong perlindungan hak perempuan dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
Adapun Kohati Terhubung dan Kohati Lestari menekankan kolaborasi lintas wilayah, kepedulian lingkungan, ketahanan pangan, serta pelestarian kearifan lokal.
“Delapan pilar ini harus saling terhubung dan menjadi arah gerakan yang jelas. Kita ingin kader tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas, kemandirian, dan kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya,” ucap Ratu Nisya.
“Keberhasilan program juga perlu dilihat dari dampaknya, bukan hanya dari banyaknya kegiatan yang terlaksana,” jelas wanita yang sudah menjadi yatim piatu sejak usia 6 tahun itu.
Selain itu, Ratu Nisya juga turut menyoroti pemerataan ruang partisipasi bagi kader di berbagai daerah.
Menurutnya, kader dari wilayah yang jauh dari pusat organisasi harus memperoleh kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam agenda nasional.
Ia menilai, upaya tersebut perlu didukung pemetaan kebutuhan lokal, pendampingan antarcabang, penyusunan prioritas bersama, serta evaluasi berkala agar program organisasi lebih terarah dan terukur.
“Jangan sampai kader di daerah hanya menjadi peserta dalam agenda nasional. Mereka juga harus punya ruang untuk menyampaikan gagasan dan ikut menentukan arah gerakan,” ucapnya.
“PB Kohati perlu hadir sebagai penghubung dan fasilitator, sehingga potensi setiap cabang dapat berkembang sesuai kebutuhan daerahnya,” Tukas Ratu Nisya.
Sebagai informasi, Ratu Nisya Yulianti menempuh pendidikan di SDN 09 Muara Ciujung Timur 2007-2013,
MTs Negeri 1 Lebak 2013-2016, dan
SMK Negeri 1 Rangkasbitung 2016-2018
Setelah itu, pada 2019 ia melanjutkan pendidikan di Universitas Setia Budhi Rangkasbitung dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan lulus pada 2023.
Kemudian sejak 2024, ia melanjutkan pendidikan magister Ilmu Komunikasi Politik di Universitas Paramadina.
Pengalaman dalam kepemimpinan organisasi, komunikasi publik, penulisan opini, fasilitasi pelatihan, dan kolaborasi lintas sektor menjadi bekal yang dibawanya dalam menawarkan gagasan tersebut.
Adapun Kongres HMI ke-33 dijadwalkan berlangsung pada 28 November hingga 11 Desember 2026 di Bandar Lampung, Provinsi Lampung.[red]












