Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Kabupaten Tangerang · 4 Mei 2026 ·

Megathrust dan Upaya Nyata Aktivis Lingkungan Mitigasi Bencana di Pesisir Utara Tangerang


 Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) rutin melakukan aksi penanaman mangrove di pesisir utara Tangerang. Foto: TangerangPos Perbesar

Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) rutin melakukan aksi penanaman mangrove di pesisir utara Tangerang. Foto: TangerangPos

Kabupaten Tangerang – Ilmuwan Jepang Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menilai karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.

“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025 sebagaimana dikutip cnbcindonesia.com.

Heki menambahkan bahwa meski waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana.

Heki menekankan peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.

“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” tambahnya.

Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, Indonesia dinilai dapat membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki.

Upaya Nyata Aktivis Lakukan Mitigasi Bencana Pesisir Utara Tangerang 

Penanaman mangrove secara masif oleh Koalisi Aktivis Lingkungan hidup Tangerang (Kalung) di pesisir utara Tangerang merupakan strategi mitigasi bencana berbasis ekosistem untuk menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami di Indonesia.

“Mangrove bertindak sebagai benteng alami atau green belt yang rapat, mampu menyerap energi gelombang, memperlambat arus, serta mencegah abrasi,” Ungkap Koordinator Kalung, Ade Yunus, Minggu (03/05/2026).

Menurut Ade Aksi tersebut merupakan respon terhadap potensi gempa besar dari zona seismic gap yang “tinggal menunggu waktu”.

“Penanaman mangrove kami prioritaskan disepanjang pesisir utara Tangerang ini krusial untuk mengurangi risiko bencana (PRB) dan memberikan waktu perlindungan bagi masyarakat pesisir,” Pungkasnya. [red]

 

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Tangerang Luncurkan Buku Cerita “Mangrove Penyelamat Pantai”

4 Mei 2026 - 15:33

Halal Bi Halal FKMT Se-Kecamatan Kosambi, Bupati Tekankan Pentingnya Jaga Keharmonisan

3 Mei 2026 - 17:02

Buka Pekan Olahraga Buruh 2026, Bupati Tangerang: Peringatan May Day Diisi Kegiatan Positif

3 Mei 2026 - 15:07

Bersiap Megathrust, Aktivis Tanam Ribuan Mangrove sebagai Tembok Alami Pesisir Tangerang 

3 Mei 2026 - 07:15

A.Zaki Iskandar: Politeknik Ismet Iskandar Adalah Lembaga Pendidikan Inklusif dan Terjangkau

2 Mei 2026 - 23:39

Cetak Kader Unggul, Intan Nurul Hikmah Siapkan Program Yellow Scholarship

2 Mei 2026 - 23:30

Trending di Kabupaten Tangerang