Menu ✖

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Kota Tangerang · 12 Jan 2026 ·

Indonesia Negara Paling Bahagia di Dunia, Kok Bisa? Ini Alasannya


 Emak-emak Bahagia saat Serok Sampah di Sungai Cisadane. Foto: Banksasuci Perbesar

Emak-emak Bahagia saat Serok Sampah di Sungai Cisadane. Foto: Banksasuci

Tangerang – Berdasarkan penelitian dan studi dari Harvard University, menempatkan Indonesia menjadi rangking satu sebagai negara paling bahagia di dunia.

Indikator studi menempatkan 6 parameter berdasarkan pada kepuasan, kesehatan mental, makna hidup, kebajikan, hubungan sosial dan finansial.

Kok bisa ya? Padahal kita sendiri kadang sering beranggapan, hidup di Indonesia itu udah di “Hard Level”.

Polusi dihirup tiap hari, macet jadi sarapan pagi, pejabat korup silih berganti dan gaji yang tak seberapa tinggi. Tapi, anehnya riset Harvard justru menobatkan warga negara +62 menjadi yang paling happy?

Hasil studi yang dirilis Global Flourishing Study mengambil sampel dari 22 negara. Dengan Indonesia berada di posisi pertama, kita mampu mengungguli negara-negara kaya, seperti Amerika Serikat (rangking 12) dan Inggris (rangking 20).

Bahkan, Jepang yang dikenal dengan ketertiban dan keindahan tata kotanya, berada di tempat paling buncit.

Hasil studi ini seolah menegaskan, bahwa ternyata uang bukan kunci kebahagiaan. Ini tentu kontradiktif dengan standar kesuksesan modern. Amerika dan Inggris boleh menang di saldo rekening, tapi mereka hancur di koneksi sosial dan kesehatan mental.

Setelah diteliti, ternyata orang Indonesia memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki warga negara lainnya. Data mencatat, 3 dari 4 orang Indonesia atau sekitar 75 persen, rutin pergi ke tempat ibadah.

Bukan sekadar rutinitas mingguan, tapi ini adalah “Privelege Spiritual”, seperti dikutip dari laman hfh.fas.harvard.edu/Global Flourishing Study.

Ya, saat logika manusia mentok karena persoalan hidup, kita punya tombol reset bernama doa. Orang Indonesia itu jagonya berserah. Apa yang tak bisa dikontrol atau di luar kendali, kita serahkan kepada Tuhan.

Dan ternyata, ini yang bikin stres kita tidak meledak, meski tekanan hidup kadang berat.

Ada satu ungkapan lawas, mangan ora mangan asal kumpul. Nah, kita punya jaring pengaman sosial terbaik di dunia, yaitu teman dan keluarga. Masalah seberat apapun, kalau diceritain sambil ngopi dan ditertawakan bareng sirkel, bebannya itu seperti langsung didiskon 50 persen.

Sementara, di Barat dan negara maju pada umumnya, depresi dihadapi sendirian di apartemen yang sempit.

Tapi, tentu saja ini bukan pembenaran buat menormalisasi kemiskinan. Poinnya, orang Indonesia itu punya modal mental baja dan modal sosial yang negara lain tidak punya. [red]

Artikel ini telah dibaca 125 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wali Kota Sachrudin Ajak Jamaah Pengajian Bulanan Makmurkan Masjid

23 Oktober 2026 - 23:58

Dari Bank Sampah hingga Literasi Anak, Kampung Jimpitan Jadi Model Percontohan Ruang Bersama Indonesia

23 Oktober 2026 - 18:10

Maryono: Perbankan Syariah Harus Tumbuh Bersama Ekonomi Masyarakat

22 Oktober 2026 - 16:39

Hari Santri, Wali Kota Sachrudin Ajak Perkuat Akhlaqul Karimah 

22 Oktober 2026 - 16:25

Gampang Kerja, Sachrudin:  Jangan Lewatkan 1.267 Lowongan Kerja pada Gebyar Rekrutmen 

21 Oktober 2026 - 20:26

Sufmi Dasco Beri Perhatian Terhadap Dugaan Diskriminasi di SMA Strada St.Thomas Aquino Tangerang

21 Oktober 2026 - 15:38

Trending di Kota Tangerang