Tangerang – Berdasarkan penelitian dan studi dari Harvard University, menempatkan Indonesia menjadi rangking satu sebagai negara paling bahagia di dunia.
Indikator studi menempatkan 6 parameter berdasarkan pada kepuasan, kesehatan mental, makna hidup, kebajikan, hubungan sosial dan finansial.
Kok bisa ya? Padahal kita sendiri kadang sering beranggapan, hidup di Indonesia itu udah di “Hard Level”.
Polusi dihirup tiap hari, macet jadi sarapan pagi, pejabat korup silih berganti dan gaji yang tak seberapa tinggi. Tapi, anehnya riset Harvard justru menobatkan warga negara +62 menjadi yang paling happy?
Hasil studi yang dirilis Global Flourishing Study mengambil sampel dari 22 negara. Dengan Indonesia berada di posisi pertama, kita mampu mengungguli negara-negara kaya, seperti Amerika Serikat (rangking 12) dan Inggris (rangking 20).
Bahkan, Jepang yang dikenal dengan ketertiban dan keindahan tata kotanya, berada di tempat paling buncit.
Hasil studi ini seolah menegaskan, bahwa ternyata uang bukan kunci kebahagiaan. Ini tentu kontradiktif dengan standar kesuksesan modern. Amerika dan Inggris boleh menang di saldo rekening, tapi mereka hancur di koneksi sosial dan kesehatan mental.
Setelah diteliti, ternyata orang Indonesia memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki warga negara lainnya. Data mencatat, 3 dari 4 orang Indonesia atau sekitar 75 persen, rutin pergi ke tempat ibadah.
Bukan sekadar rutinitas mingguan, tapi ini adalah “Privelege Spiritual”, seperti dikutip dari laman hfh.fas.harvard.edu/Global Flourishing Study.
Ya, saat logika manusia mentok karena persoalan hidup, kita punya tombol reset bernama doa. Orang Indonesia itu jagonya berserah. Apa yang tak bisa dikontrol atau di luar kendali, kita serahkan kepada Tuhan.
Dan ternyata, ini yang bikin stres kita tidak meledak, meski tekanan hidup kadang berat.
Ada satu ungkapan lawas, mangan ora mangan asal kumpul. Nah, kita punya jaring pengaman sosial terbaik di dunia, yaitu teman dan keluarga. Masalah seberat apapun, kalau diceritain sambil ngopi dan ditertawakan bareng sirkel, bebannya itu seperti langsung didiskon 50 persen.
Sementara, di Barat dan negara maju pada umumnya, depresi dihadapi sendirian di apartemen yang sempit.
Tapi, tentu saja ini bukan pembenaran buat menormalisasi kemiskinan. Poinnya, orang Indonesia itu punya modal mental baja dan modal sosial yang negara lain tidak punya. [red]













