Menu

Mode Gelap
Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025

Edukasi · 3 Mei 2025 ·

Catatan M.Fajar Fernando: Nasionalisme Gaya Baru, Ketika Cinta Bangsa Bertemu Media Sosial


 Muhammad Fajar Fernando Suhaidi - Mahasiswa Ilmu Pemasyarakatan - Politeknik Pengayoman Indonesia. Foto: dok.pribadi Perbesar

Muhammad Fajar Fernando Suhaidi - Mahasiswa Ilmu Pemasyarakatan - Politeknik Pengayoman Indonesia. Foto: dok.pribadi

Artikel – Pernahkah kita sadar bahwa hari ini, rasa cinta tanah air bisa viral dalam hitungan menit? Dari video pendek tentang makanan tradisional hingga unggahan bangga memakai batik di luar negeri semuanya kini jadi ekspresi baru dari nasionalisme.

Di tengah derasnya arus digital, media sosial telah mengubah wajah nasionalisme: dari pidato di podium, kini cukup dari satu unggahan dengan tagar yang menyentuh hati.

Dulu, nasionalisme diasosiasikan dengan perjuangan bersenjata, upacara bendera, atau hafalan teks proklamasi. Itu tidak salah, tapi kini bentuknya lebih cair dan dinamis.

Generasi muda tidak hanya menyanyikan lagu kebangsaan, mereka juga menciptakan lagu-lagu baru yang menyuarakan semangat cinta bangsa. Mereka tidak hanya mencintai budaya, tapi juga membagikannya ke dunia melalui TikTok dan Instagram.

Transformasi ini lahir karena cara kita berinteraksi dan mengekspresikan diri juga telah berubah. Media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tapi juga panggung bagi identitas nasional yang sedang berkembang.

Banyak contoh positif menunjukkan bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat kebangsaan. Kampanye #BanggaBuatanIndonesia berhasil mendongkrak popularitas produk lokal. Konten edukatif tentang sejarah Indonesia dari kreator seperti ariefmuhammad atau yang lainnya dengan mengajak followers untuk memahami masa lalu bangsa dengan cara yang segar.

Tak hanya itu, viralnya video siswa-siswi Papua menyanyikan lagu nasional dengan penuh semangat, atau unggahan kreatif memperingati Hari Kemerdekaan, menunjukkan bahwa nasionalisme bisa dibungkus dengan cara yang kekinian. Di sinilah letak kekuatan media sosial: menjangkau banyak orang dalam waktu singkat, dengan cara yang relatable. Namun, setiap kekuatan memiliki sisi gelapnya.

Media sosial juga bisa menjadi ladang subur bagi informasi kebohongan dan ujaran kebencian atas nama nasionalisme. Kadang, cinta pada bangsa sendiri justru menjelma menjadi kebencian terhadap bangsa lain.

Suatu bentuk nasionalisme sempit yang berbahaya. Ada juga kecenderungan sebagian netizen mengedepankan “nasionalisme instan”: hanya sekadar ikut-ikutan kampanye tanpa benar-benar memahami nilai di baliknya. Nasionalisme bukan sekadar simbol atau tren, tapi komitmen jangka panjang untuk membangun negeri.

Untuk itulah, nasionalisme gaya baru perlu bersandar pada literasi digital dan kesadaran nilai. Generasi muda harus paham bahwa mencintai Indonesia tak cukup hanya dengan mengunggah foto bertema merah putih. Perlu ada pemahaman, aksi nyata, dan sikap inklusif.

Nasionalisme hari ini bukan soal menutup diri dari dunia luar, tapi memperkenalkan identitas kita ke dunia tanpa inferioritas maupun superioritas. Kita bisa belajar dari bangsa lain, tanpa kehilangan jati diri. Kita bisa berjejaring global, tanpa melupakan akar budaya.

Media sosial memberi peluang besar untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air selama kita menggunakannya dengan bijak. Nasionalisme gaya baru bukan pengganti, tapi kelanjutan dari perjuangan generasi sebelumnya. Bedanya, kini kita berjuang lewat konten, edukasi digital, dan kolaborasi lintas platform.

Penulis : Muhammad Fajar Fernando Suhaidi – Mahasiswa Politeknik Pengayoman Indonesia 

 

Artikel ini telah dibaca 161 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gubernur Andra Soni Komitmen Perkuat Pendidikan Antikorupsi di Seluruh Jenjang Pendidikan

11 Mei 2026 - 15:54

Bupati Tangerang Luncurkan Buku Cerita “Mangrove Penyelamat Pantai”

4 Mei 2026 - 15:33

A.Zaki Iskandar: Politeknik Ismet Iskandar Adalah Lembaga Pendidikan Inklusif dan Terjangkau

2 Mei 2026 - 23:39

Softlauncing Politeknik Ismet Iskandar Indonesia, Kampus Pencetak Pemimpin Masa Depan

2 Mei 2026 - 16:12

Hardiknas 2026, Program Sekolah Gratis Berdampak Pada Meningkatnya IPM dan RLS Provinsi Banten

2 Mei 2026 - 10:08

Mahasiswa UNPAM Gelar PKM di Cilegon: Dorong Literasi Politik Remaja Lewat Media Sosial

23 April 2026 - 16:47

Trending di Banten