Tangerang – Alat Pencegat Sampah atau Wastetrap yang dipasang oleh Komunitas Peduli Sungai Cisadane Banksasuci Foundation efektif meminimalisir 30 Persen Sampah Cisadane mengalir ke kawasan perkotaan.
“Instalasi Wastetrap berfungsi untuk menjerat sampah di sungai Cisadane agar tidak mengalir ke kawasan perkotaan hingga berakhir di muara, Sampah yang terjerat kemudian diangkut, dipilah dan diolah untuk dikelola oleh Banksasuci, tidak ada yang dibuang ke TPA,” Ungkap Koordinator Banksasuci Foundation, Ade Yunus, Senin (05/10/2026).
Ade menambahkan bahwa pencemaran sumber air di DAS Cisadane disebabkan oleh sampah yang dibuang ke sungai, yang 84 persennya berasal dari sampah domestik.
“Sebagian besar sampah domestik yang ditemukan di Cisadane adalah sampah Plastik, 29,5 persen kantong plastik/kresek dan 28,7 persen botol plastik, 16,8 persen plastik kemasan, 5,5 persen sampah organik, sisanya stereform, sandal, sepatu, kasur, bantal dan jenis sampah lainya,” Sambungnya.
Menurut Ade, tantangan sesungguhnya bukanlah membersihkan sampah di Sungai Cisadane, tapi melakukan edukasi komunikasi perubahan perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran, kali dan Sungai.
“Membersihkan sampah di Sungai memang berat, namun jauh lebih berat tantangannya adalah melakukan komunikasi perubahan perilaku terhadap masyarakat, harus konsisten dan berkelanjutan, sehingga sampah di Sungai bisa diminimalisir,” Tambahnya.
Ade berharap kolaborasi Pentahelix dalam pelestarian sungai Cisadane dapat terwujud dengan seluruh stakeholders terkait sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
“Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, Pelestarian Sungai Cisadane sebagai air baku dan sumber kehidupan masyarakat adalah tanggung jawab bersama, tidak bisa dilakukan secara parsial dan sporadis butuh sinergi dan kolaborasi Pentahelix,” Pungkasnya. [red]












