Menu

Mode Gelap
Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025

Banten · 16 Jul 2026 ·

Sekolah Gratis Bukan Sekadar Program Pemerintah, Tapi Harapan yang Membuat Mimpi Hafidz Tetap Hidup


 Abdul Hafidz Remaja asal Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Foto: ist Perbesar

Abdul Hafidz Remaja asal Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Foto: ist

Pandeglang – Mata Abdoel Hafidz (16) berkaca-kaca mendapat sekolah gratis dari program Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusuma. Remaja asal Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang itu saat ini tidak lagi takut putus sekolah. Ia ingin memeluk gubernur karena harapan atas cita-citanya masih terjaga.

“Saya ingin memeluk gubernur dan mengucapkan terima kasih. Karena sekolah gratis ini, saya tetap bisa sekolah dan ayah saya tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya.” Ujar Hafidz, Kamis (16/7/2026).

Ucapan itu keluar dari seorang anak yang dalam beberapa bulan terakhir harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya. Sekitar 80 hari lalu, Hafidz kehilangan sang ibu setelah berjuang melawan gagal ginjal. Sejak September tahun lalu, ia hampir setiap hari mendampingi ibunya menjalani pengobatan, mulai dari RS Seruni Harfiah Lestari (SHL) Pandeglang hingga dirujuk ke RSUD Banten di Kota Serang. Di rumah sakit itu dokter menyatakan ibunya mengalami penyumbatan pembuluh darah dan gagal ginjal sehingga harus rutin menjalani cuci darah.

Sepeninggal ibunya, kehidupan Hafidz berubah. Ia kini tinggal berdua bersama adik laki-lakinya yang baru masuk kelas I SMP. Ayahnya, Yadi Sugianto, bekerja sebagai buruh harian lepas di proyek bangunan di Tangerang sehingga hanya bisa pulang dua minggu sekali, bahkan terkadang sebulan sekali.

Untuk makan sehari-hari, Hafidz dan adiknya dibantu paman serta bibinya yang tinggal di belakang rumah. Sementara kebutuhan hidup dikirim ayah melalui rekening ATM milik almarhum ibunya yang kini dipegang Hafidz. Dari rekening itulah ia mengatur kebutuhan sekolah sekaligus uang jajan adiknya.

Di balik beban yang dipikulnya, Hafidz tidak pernah kehilangan semangat untuk bersekolah. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan keluarga. Saat masih duduk di bangku SMP, ia dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Hafidz dipercaya menjadi bendahara Pramuka karena dinilai bertanggung jawab dan disiplin. Di luar sekolah, ia juga bergabung dengan salah satu sanggar seni budaya Rampak Bedug di Pandeglang sebagai bentuk kecintaannya terhadap seni dan budaya daerah.

Semangat itulah yang membuat Hafidz tidak ingin putus sekolah. Namun, harapan itu sempat nyaris pupus ketika ia gagal diterima di SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili.

“Saya sempat bingung mau sekolah di mana,” kenangnya.

Kekhawatiran itu juga dirasakan ayahnya. Dengan penghasilan sebagai buruh bangunan, biaya sekolah swasta tentu menjadi beban yang tidak ringan. Titik terang muncul ketika seorang teman memberi tahu bahwa SMK PGRI Pandeglang mengikuti Program Sekolah Gratis Pemprov Banten. Informasi itu segera disampaikan Hafidz kepada ayahnya, sementara proses pendaftaran dibantu pamannya karena sang ayah masih bekerja di Tangerang.

Kini Hafidz dapat melanjutkan pendidikan di SMK PGRI Pandeglang tanpa dibebani biaya SPP. Menurutnya, keluarga hanya mengeluarkan biaya untuk seragam sekolah.

“Program ini sangat membantu keluarga saya. Ayah sekarang bisa lebih fokus bekerja karena tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya,” katanya.

Pesan sang ayah sebelum kembali bekerja di Tangerang selalu ia ingat. Ayah berpesan agar Hafidz belajar dengan sungguh-sungguh, tidak gengsi bersekolah di mana pun, memilih teman yang baik, dan menjaga adiknya.

Saat diminta menyampaikan pesan untuk ayahnya, suara Hafidz mulai bergetar.

“Buat ayah, semangat kerjanya. Jaga kesehatan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki buat ayah,” ujarnya.

Cerita serupa juga dialami Muhammad Hasbi Fabiansyah (15), siswa baru kelas X jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) di SMK PGRI Pandeglang. Remaja asal Desa Gunungputeri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang itu sebelumnya mendaftar ke SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili. Namun ia gagal diterima.

Hasbi tinggal bersama ibunya, Lilis Herlis, yang sehari-hari berjualan jajanan dan minuman di warung kecil. Saat hendak mendaftar ke SMK PGRI Pandeglang, ia baru mengetahui sekolah tersebut mengikuti Program Sekolah Gratis setelah melihat spanduk di depan sekolah.

“Saya baru tahu waktu mau daftar. Ternyata sekolahnya gratis, cuma bayar seragam,” ujarnya.

Menurut Hasbi, program tersebut sangat membantu keluarganya. Ibunya kini tidak lagi dibebani biaya SPP setiap bulan sehingga bisa lebih fokus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasbi sendiri mengaku uang jajannya sangat terbatas dan lebih sering menggunakan uang pemberian kakaknya untuk keperluan sekolah.

Ia juga mengetahui kakak kandungnya pernah terpaksa menghentikan kuliah karena keterbatasan biaya. Pengalaman itu membuatnya memahami betapa berharganya kesempatan untuk tetap bersekolah.

Kisah Hafidz dan Hasbi hanyalah dua dari puluhan ribu cerita yang lahir dari Program Sekolah Gratis Pemprov Banten. Program ini membuka kesempatan bagi siswa yang tidak diterima di sekolah negeri agar tetap dapat melanjutkan pendidikan di sekolah swasta tanpa terbebani biaya SPP. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kebijakan tersebut menjadi penyelamat agar anak-anak mereka tidak berhenti sekolah hanya karena persoalan biaya.

Pada Tahun Ajaran 2025-2026, sebanyak 801 sekolah swasta jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) telah bergabung dalam Program Sekolah Gratis. Sebanyak 60.705 siswa telah terverifikasi sebagai penerima manfaat.

Di balik angka itu, tersimpan ribuan cerita perjuangan keluarga yang akhirnya dapat bernapas lega karena anak-anak mereka tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan. Bagi Hafidz, sekolah gratis bukan sekadar program pemerintah, melainkan harapan yang membuat mimpinya tetap hidup.[red]

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gubernur Banten dan Ketua TP PKK Tinawati Andra Soni Hadiri Penyambutan Peserta Raker APPSI

16 Juli 2026 - 16:24

Hadiri Raker APPSI, Gubernur Andra Soni Tegaskan Komitmen Dukung Pemberdayaan UMKM

16 Juli 2026 - 14:46

Pemprov Banten Komitmen Jadikan SAKIP Sebagai Instrumen Manajemen Peningkat Kinerja

15 Juli 2026 - 17:29

Kisah Sarbini, Buruh Harian yang Kini Lega Putranya Bersekolah Berkat Program Sekolah Gratis

15 Juli 2026 - 12:56

Gubernur Andra Soni Tegaskan Program Sekolah Gratis Utamakan Mutu Pendidikan

14 Juli 2026 - 19:54

Warga Sambut Baik Rekonstruksi Ruas Jalan Teluknaga–Dadap oleh Pemprov Banten

14 Juli 2026 - 16:54

Trending di Banten