Sumbar — Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) menggelar perayaan yang berbeda dalam memperingati hari ulang tahunnya yang ke-7 yang jatuh pada 22 Januari. Tanpa perayaan seremonial, Gekrafs memperingatinya dengan doa bersama di Hunian Sementara (HUNTARA) bersama warga pengungsian terdampak bencana di Sumatera Barat.
Langkah ini sejalan dengan arahan Ketua Umum Gekrafs, Kawendra Lukistian, yang mengatakan suasana suka cita organisasi seharusnya dibarengi dengan empati dan keberpihakan kepada masyarakat yang sedang mengalami masa sulit.
Sekretaris Jenderal DPP Gekrafs, Temi Sumarlin, menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-7 sengaja difokuskan pada doa bersama dan kebersamaan, bukan euforia perayaan.
“Kami ingin di usia ke-7 ini Gekrafs bermakna dengan doa dan kebersamaan. Kita semua tau kondisi saudara kita di HUNTARA belum sepenuhnya pulih dan masih butuh rangkulan kita semua,” ujar Temi, Rabu (14/1/26).
Ia menegaskan bahwa Gekrafs selalu berkomitmen membawa semangat kebermanfaatan sosial, dengan ekonomi kreatif sebagai alat untuk membangun harapan dan kemandirian masyarakat.
Hal senada disampaikan Ketua Panitia HUT ke-7 Gekrafs, Octaviani. Menurutnya, pemilihan lokasi peringatan di kawasan pengungsian salah satu wujud nyata solidaritas.
“Kami ingin ulang tahun Gekrafs menjadi ruang berbagi harapan. Melalui doa bersama di HUNTARA, kami menguatkan kembali komitmen Gekrafs untuk selalu hadir dan berjalan bersama masyarakat,” jelas Octaviani.
Selain doa bersama, rangkaian HUT ke-7 Gekrafs juga diisi dengan penyaluran bantuan serta aktivitas kreatif yang melibatkan anak-anak dan warga pengungsian.
Peringatan HUT ke-7 Gekrafs ini diharapkan menjadi pengingat bahwa peran organisasi tidak hanya sebatas merayakan capaian, tetapi juga memastikan keberadaannya memberi dampak langsung bagi masyarakat luas, khususnya bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit pasca bencana.[red]










