Menu

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Kabupaten Tangerang · 29 Jul 2026 ·

Mitigasi Megathrust dan Tsunami, Aktivis Lingkungan: Jaga Hutan Lindung Mangrove


 Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat melakukan aksi Penanaman Mangrove di Pesisir Utara Tangerang. Foto: TangerangPos Perbesar

Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat melakukan aksi Penanaman Mangrove di Pesisir Utara Tangerang. Foto: TangerangPos

Kabupaten Tangerang – Penanaman mangrove secara masif oleh Koalisi Aktivis Lingkungan hidup Tangerang (Kalung) di pesisir utara Tangerang merupakan strategi mitigasi bencana berbasis ekosistem untuk menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami dari zona seismic gap yang “tinggal menunggu waktu”.

“Mangrove bertindak sebagai benteng alami atau green belt yang rapat, mampu menyerap energi gelombang dan memperlambat arus, untuk melindungi pesisir dari ancaman megathrust dan tsunami, maka hutan lindung Mangrove harus terlindungi tidak berlaihfungsi dan terus gencarkan aksi penanaman mangrove,” Ungkap Koordinator Kalung, Ade Yunus, Rabu, (29/07/2026).

Ketua Banksasuci Foundation tersebut menambahkan bahwa restorasi mangrove bukan tentang hari ini tapi tentang masa depan ekosistem dan keselamatan masyarakat nelayan pesisir utara Tangerang yang terancam.

“Upaya pengurangan risiko bencana perlu mitigasi nyata secara berkelanjutan, sekali lagi jaga hutan lindung, penanaman dan perawatan hutan mangrove harus terus digalakkan,” tegasnya.

Waspada Ancaman Megathrust dan Tsunami

Dikutip cnbcindonesia.com, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada dua zona megathrust yang saat ini “tinggal menunggu waktu” untuk melepaskan energinya, yakni Megathrust Selat Sunda yang terakhir gempa pada 1757 dan Mentawai-Siberut pada 1797.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai seismic gap, yakni wilayah yang secara geologis menyimpan energi besar karena sudah lama tidak mengalami gempa besar.

“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.

BMKG menegaskan istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis data sejarah dan geologi, bukan untuk memicu kepanikan publik.

“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No. 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG.[red]

Artikel ini telah dibaca 53 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Warga Tangerang Berasa Gak?, Ada Gempa 5,9 SR Jelang Subuh

12 September 2026 - 05:53

Pemkab Tangerang Terima Penghargaan Kategori Daerah Peduli Inovasi Ekonomi Kreatif dari Kompas TV

10 September 2026 - 20:18

Wabup Intan Dorong Hasil Evaluasi iBangga Jadi Dasar Penguatan Pembangunan Keluarga

10 September 2026 - 12:49

Wabup Intan Tekankan Pentingnya Adab Dalam Mencetak Generasi Berkarakter

5 September 2026 - 21:30

Bupati Tangerang Letakkan Batu Pertama Bedah 4 Rumah di Sindang Panon

4 September 2026 - 13:29

Wabup Intan Harap IIPE 2026 Mampu Dorong Peningkatan Investasi, Peluang Usaha dan Lapangan Kerja

4 September 2026 - 13:21

Trending di Kabupaten Tangerang