Menu

Mode Gelap
Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025

Kabupaten Tangerang · 29 Jul 2026 ·

Mitigasi Megathrust dan Tsunami, Aktivis Lingkungan: Jaga Hutan Lindung Mangrove


 Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat melakukan aksi Penanaman Mangrove di Pesisir Utara Tangerang. Foto: TangerangPos Perbesar

Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) saat melakukan aksi Penanaman Mangrove di Pesisir Utara Tangerang. Foto: TangerangPos

Kabupaten Tangerang – Penanaman mangrove secara masif oleh Koalisi Aktivis Lingkungan hidup Tangerang (Kalung) di pesisir utara Tangerang merupakan strategi mitigasi bencana berbasis ekosistem untuk menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami dari zona seismic gap yang “tinggal menunggu waktu”.

“Mangrove bertindak sebagai benteng alami atau green belt yang rapat, mampu menyerap energi gelombang dan memperlambat arus, untuk melindungi pesisir dari ancaman megathrust dan tsunami, maka hutan lindung Mangrove harus terlindungi tidak berlaihfungsi dan terus gencarkan aksi penanaman mangrove,” Ungkap Koordinator Kalung, Ade Yunus, Rabu, (29/07/2026).

Ketua Banksasuci Foundation tersebut menambahkan bahwa restorasi mangrove bukan tentang hari ini tapi tentang masa depan ekosistem dan keselamatan masyarakat nelayan pesisir utara Tangerang yang terancam.

“Upaya pengurangan risiko bencana perlu mitigasi nyata secara berkelanjutan, sekali lagi jaga hutan lindung, penanaman dan perawatan hutan mangrove harus terus digalakkan,” tegasnya.

Waspada Ancaman Megathrust dan Tsunami

Dikutip cnbcindonesia.com, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada dua zona megathrust yang saat ini “tinggal menunggu waktu” untuk melepaskan energinya, yakni Megathrust Selat Sunda yang terakhir gempa pada 1757 dan Mentawai-Siberut pada 1797.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai seismic gap, yakni wilayah yang secara geologis menyimpan energi besar karena sudah lama tidak mengalami gempa besar.

“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.

BMKG menegaskan istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis data sejarah dan geologi, bukan untuk memicu kepanikan publik.

“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No. 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG.[red]

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wabup Intan Dorong Variasi Menu Olahan Berbahan Baku Ikan Agar Miliki Nilai Tambah

29 Juli 2026 - 19:49

Pemkab Tangerang Perbaiki Ruas Jalan Cadas-Sepatan-Jati dan Gardu-Tanah Merah

29 Juli 2026 - 19:22

Hadiri Milad Ke-51 MUI, Bupati Tangerang Resmikan Muallaf Center

29 Juli 2026 - 11:25

Atasi Kekeringan, Gubernur Andra Soni Distribusikan Air Bersih dan Siapkan Sumur Bersama

28 Juli 2026 - 22:02

17 Pelajar Raih Beasiswa Tangerang Gemilang, Intan Wujudkan Mimpi Kuliah di Fakultas Kedokteran

28 Juli 2026 - 21:57

Gubernur dan Bupati Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Tigaraksa

28 Juli 2026 - 19:28

Trending di Kabupaten Tangerang