Menu

Mode Gelap
Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir

Nasional · 28 Agu 2025 ·

Habib Idrus Warning! Game Online Bisa Jadi Jerat Anak Jika Tanpa Literasi


 Anggota DPR RI Fraksi PKS Habib Idrus Salim Aljufrie. Foto: ist Perbesar

Anggota DPR RI Fraksi PKS Habib Idrus Salim Aljufrie. Foto: ist

Jakarta – Fenomena kecanduan game online menjadi salah satu bahasan hangat dalam webinar “Ruang Digitalisasi Anak Aman dan Sehat”.

Acara yang diikuti 250 lebih peserta daring ini mempertemukan Habib Idrus Salim Aljufri dengan pakar komunikasi Dr. Rulli Nasrullah dan psikolog pendidikan Dr. Muhammad Iqbal.

Habib Idrus mengingatkan bahwa peluang digital sangat besar, tapi juga sarat risiko. “Game online bisa melatih daya saing, tapi jika tanpa literasi, ia berubah menjadi jerat yang menenggelamkan anak-anak kita,” ujarnya.

Dr. Rulli mengelaborasi dengan perspektif akademik. Ia menegaskan bahwa bermain—baik di dunia nyata maupun digital—adalah sarana penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak. Namun, ketika game online mendominasi, muncul risiko kesehatan, kecanduan, dan penarikan diri dari ineraksi nyata.

“Anak sering lebih nyaman di ruang maya ketimbang dunia nyata. Inilah yang harus diantisipasi dengan pendampingan,” jelasnya.

Dr. Iqbal menambahkan dimensi keluarga: “Gawai menyediakan apresiasi instan, sesuatu yang sebenarnya anak butuhkan dari lingkungan terdekatnya. Kalau orang tua tidak hadir, anak mencari pengakuan itu di game,” terangnya.

Peserta juga mengungkap keresahan nyata. Septi Setia Rini, misalnya, menyoroti maraknya anak SD yang menjadi konten kreator dengan isi konten tak sesuai usia.

“Mereka sibuk mengejar popularitas daripada belajar,” ungkapnya. Dr. Rulli menanggapi dengan menekankan lemahnya penyaringan platform yang memungkinkan anak memalsukan usia, sehingga tanggung jawab orang tua semakin besar.

Habib Idrus menutup dengan penekanan kuat: “Game online bisa jadi peluang, tapi juga bencana. Kuncinya ada di literasi digital. Kalau keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara berjalan bersama, ruang digital kita akan aman untuk anak-anak,” Pungkasnya. [red]

Artikel ini telah dibaca 61 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kasus Pengadaan Iklan BJB, KPK Tahan 4 Tersangka

11 Agustus 2026 - 07:58

Hasil Survei IPO: Elektabilitas Partai Gerindra Tertinggi Capai 17,5 Persen

9 Agustus 2026 - 15:41

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Berpotensi Bebas, Jika Menangkan Praperadilan

9 Agustus 2026 - 09:01

Survei LKPI: 79,3 Persen Publik Puas dengan Kinerja Presiden Prabowo

4 Agustus 2026 - 08:07

Pengurus Baru Gekrafs Sulteng Dilantik, Dan Resmi Berdiri di-seluruh Kabupaten Kota

28 Juli 2026 - 22:44

Konferensi Sungai Indonesia 2026 Satukan Komunitas Peduli Sungai Se-Indonesia

25 Juli 2026 - 12:46

Trending di Nasional