Menu ✖

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Nasional · 28 Agu 2025 ·

Habib Idrus Warning! Game Online Bisa Jadi Jerat Anak Jika Tanpa Literasi


 Anggota DPR RI Fraksi PKS Habib Idrus Salim Aljufrie. Foto: ist Perbesar

Anggota DPR RI Fraksi PKS Habib Idrus Salim Aljufrie. Foto: ist

Jakarta – Fenomena kecanduan game online menjadi salah satu bahasan hangat dalam webinar “Ruang Digitalisasi Anak Aman dan Sehat”.

Acara yang diikuti 250 lebih peserta daring ini mempertemukan Habib Idrus Salim Aljufri dengan pakar komunikasi Dr. Rulli Nasrullah dan psikolog pendidikan Dr. Muhammad Iqbal.

Habib Idrus mengingatkan bahwa peluang digital sangat besar, tapi juga sarat risiko. “Game online bisa melatih daya saing, tapi jika tanpa literasi, ia berubah menjadi jerat yang menenggelamkan anak-anak kita,” ujarnya.

Dr. Rulli mengelaborasi dengan perspektif akademik. Ia menegaskan bahwa bermain—baik di dunia nyata maupun digital—adalah sarana penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak. Namun, ketika game online mendominasi, muncul risiko kesehatan, kecanduan, dan penarikan diri dari ineraksi nyata.

“Anak sering lebih nyaman di ruang maya ketimbang dunia nyata. Inilah yang harus diantisipasi dengan pendampingan,” jelasnya.

Dr. Iqbal menambahkan dimensi keluarga: “Gawai menyediakan apresiasi instan, sesuatu yang sebenarnya anak butuhkan dari lingkungan terdekatnya. Kalau orang tua tidak hadir, anak mencari pengakuan itu di game,” terangnya.

Peserta juga mengungkap keresahan nyata. Septi Setia Rini, misalnya, menyoroti maraknya anak SD yang menjadi konten kreator dengan isi konten tak sesuai usia.

“Mereka sibuk mengejar popularitas daripada belajar,” ungkapnya. Dr. Rulli menanggapi dengan menekankan lemahnya penyaringan platform yang memungkinkan anak memalsukan usia, sehingga tanggung jawab orang tua semakin besar.

Habib Idrus menutup dengan penekanan kuat: “Game online bisa jadi peluang, tapi juga bencana. Kuncinya ada di literasi digital. Kalau keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara berjalan bersama, ruang digital kita akan aman untuk anak-anak,” Pungkasnya. [red]

Artikel ini telah dibaca 62 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Presiden: Tekan Beban Jemaah Haji, Tata Kelola Keuangan Haji Diaudit

28 September 2026 - 20:39

Sufmi Dasco: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Ditargetkan Rampung Oktober

27 September 2026 - 14:21

Bos Judi Online Ditangkap di Thailand, Ini 3 Situs Judinya

25 September 2026 - 22:38

Annisa Mahesa Bingkai Inklusi Keuangan dengan Nilai Empat Pilar Kebangsaan

25 September 2026 - 13:23

Dikawal Dasco Hingga Tuntas, Tok! RUU Reforma Agraria Resmi Disahkan Menjadi Undang-undang

22 September 2026 - 22:45

Dipimpin Dasco, Rapat DPR dan Pemerintah Sepakati RUU Reforma Agraria

21 September 2026 - 22:01

Trending di Nasional