Tangerang – Upaya mencegah bencana dan mengurangi jejak karbon butuh aksi nyata, seperti yang telah dilakukan oleh Aktivis Lingkungan, Ade Yunus. Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) tersebut sudah giat melakukan gerakkan aksi penanaman pohon sejak tahun 2002 saat dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah Atas (MAN 1 Kota Tangerang).
“Tahun 2002 bersama Almarhum kakak (Kang Uyus – Pendiri Banksasuci) kita dirikan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH), giat pertama kita pada tahun 2003 adalah menanam 1.000 pohon di Jalan Baru Cadas Periuk Kota Tangerang, kita gerakkan kawan-kawan pelajar dan Pramuka saat itu, modal kita 100rb hanya untuk beli air mineral saja. Alhamdulillah sekarang pohonya masih berdiri kokoh meneduhi pengguna jalan,” Ungkap Ade saat Bincang Santai : “Mengapa Tanam Pohon?”, Minggu, (30/11/2025).
Koordinator Presidium Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Ade Yunus bersama aktivis lainya saat menanam Ribuan Bibit Mangrove di Pantai Api-Api Mauk Barat Kabupaten Tangerang. Foto: TangerangPos
Bagi Ade, menanam pohon bukan sekedar meneduhkan namun juga sebagai sedekah oksigen dan merawat keseimbangan lingkungan dari proses cepatnya pertumbuhan penduduk dan investasi dengan maraknya pembangunan.
“Pertumbuhan demografi dan maraknya pembangunan mengatasnamakan investasi, harus diimbangi dengan merawat keseimbangan lingkungan dengan tetap mempertahankan kawasan hijau melalui penanaman pohon, kami memilih aksi tidak banyak narasi, setiap ada ruang kosong, gersang, habis digunduli, kami tanami pohon kembali,” Terangnya.
Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Ade Yunus Saat menggelar aksi Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Tangerang Utara Kabupaten Tangerang.Foto: TangerangPos
Ketua Banksasuci Foundation tersebut menegaskan bahwa akibat tingginya aktivitas pembangunan, kondisi lingkungan hidup di Tangerang Raya dalam kondisi tidak baik-baik saja, selain persoalan sampah juga berkurangnya ruang-ruang terbuka hijau yang beralih fungsi lahan.
“Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota dan Kabupaten di Tangerang Raya adalah sebuah keniscayaan, rekomendasi kami atas kegelisahan dan kekhawatiran akan bencana adalah mengembalikan dan mempertahankan Zona Hijau serta menentang dan menolak alih fungsi lahan dan alih fungsi hutan mangrove, dan kami tidak berhenti untuk menggerakkan aksi penanaman pohon,” Tegasnya.
Isu perubahan iklim dengan semakin tingginya jejak karbon, semakin besar dampaknya terhadap pemanasan global dan cuaca ekstrem seperti kekeringan, Banjir dan bencana alam lainnya. Hal tersebut memicu Ade untuk mengintensifkan gerakkan penanaman pohon dengan mengkampanyekan Gerakan ‘Banten Teduh, Tangerang Sejuk’.
“Alhamdulillah usulan kami untuk satu hari tanpa kendaraan bermotor sudah dilaksanakan Pemkot Tangerang, Pengelolaan Sampah terpadu melalui inovasi teknologi sudah berjalan di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel, tinggal memasifkan gerakkan penanaman pohon yang terus kami dorong agar menjadi habit atau kebiasaan bukan sekedar seremonial belaka,” Tandasnya.
Untuk diketahui, sejak tahun 2003 hingga saat ini lebih kurang 1 juta pohon telah ditanami Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH), Banksasuci Foundation dan Gerakkan ‘Banten Teduh, Tangerang Sejuk’ baik di kawasan lahan tandus serta bantaran Sungai dan kali di wilayah Tangerang Raya, Provinsi Banten. [red]