Kabupaten Tangerang – Mengingat gempa megathrust yang berpotensi tsunami tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, Aktivis dan Pegiat Lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) intensifkan penanaman mangrove di wilayah pesisir utara Tangerang.
“Untuk mitigasi yang optimal, kita terus galakkan sabuk hijau mangrove dengan ketebalan 50 hingga 100 meter dari garis pantai ke arah darat untuk menciptakan ruang aman bagi masyarakat disekitar pesisir,” Ungkap Koordinator Kalung Ade Yunus, Minggu, (16/08/2026).
Ade menagaskan bahwa gerakan penanaman ratusan ribu bibit mangrove yang mencakup wilayah rawan di Pesisir Utara Kabupaten Tangerang dilakukan demi mereduksi ancaman tsunami dari zona megathrust selatan Jawa.
“Mitigasi bencana berbasis ekosistem ini harus berkesinambungan, mengingat gempa megathrust tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, menjaga kelestarian hutan mangrove serta menghentikan alih fungsi lahan pesisir menjadi langkah proteksi jangka panjang yang paling mutlak dan berkelanjutan,” Tegasnya.
Ketua Banksasuci Foundation tersebut menambahkan bahwa Hutan mangrove tidak dapat mencegah terjadinya gempa bumi megathrust, namun sangat efektif sebagai benteng alami atau green belt untuk meredam dampak fatal berupa tsunami raksasa yang dipicu oleh gempa tersebut.
“Ketika gempa megathrust terjadi di bawah laut, energi yang dilepaskan dapat memicu gelombang tsunami. Di sinilah hutan mangrove berperan krusial dalam mengurangi risiko bencana (disaster risk reduction) di wilayah pesisir,” Sambungnya.
Sistem perakaran yang masif dan rapat (terutama spesies seperti Rhizophora spp) berfungsi layaknya pemecah ombak alami yang mampu menyerap energi destruktif tsunami.
“Penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove yang sehat dapat mengurangi tinggi gelombang hingga 66%,” Tandasnya. [Red]












