Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Kabupaten Tangerang · 19 Apr 2026 ·

Ancaman Megatrusht, Aktivis Lingkungan Masifkan Penanaman Mangrove di Pesisir Tangerang


 Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) dan Banksasuci Foundation gencarkan penanaman mangrove di pesisir Tangerang sebagai upaya mitigasi mengurangi resiko bencana Megatrusht.Foto: ist Perbesar

Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) dan Banksasuci Foundation gencarkan penanaman mangrove di pesisir Tangerang sebagai upaya mitigasi mengurangi resiko bencana Megatrusht.Foto: ist

Kabupaten Tangerang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada dua zona megathrust yang saat ini “tinggal menunggu waktu” untuk melepaskan energinya, yakni Megathrust Selat Sunda yang terakhir gempa pada 1757 dan Mentawai-Siberut pada 1797.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai seismic gap, yakni wilayah yang secara geologis menyimpan energi besar karena sudah lama tidak mengalami gempa besar.

“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.

BMKG menegaskan istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis data sejarah dan geologi, bukan untuk memicu kepanikan publik.

“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No. 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG.

Aktivis Lingkungan Masifkan penanaman Mangrove 

Dalam menghadapi ancaman megatrusht tersebut, pegiat dan aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) gencarkan gerakan aksi penanaman mangrove sebagai Green Belt (Sabuk Hijau) Pesisir Tangerang bagian utara.

“Ketika keseimbangan terganggu, Bumi merespon melalui bencana, Kita tidak bisa mencegah gempa, tapi kita bisa mengurangi risikonya, salasatunya dengan terus memperkuat Green Belt di pesisir Tangerang melalui penanaman Mangrove,” Ungkap Koordinator Kalung, Ade Yunus, Minggu (19/04/2026).

Ade menambahkan bahwa perlu adanya kesadaran kolektif dalam upaya mitigasi bencana, salahsatunya upaya penghijauan dengan menanam mangrove di pesisir selatan pantai secara masif.

“Untuk menahan terjangan gelombang laut dan ancaman tsunami, penanaman mangrove merupakan bagian dari upaya mitigasi mengurangi resiko Bencana dispesisir pantai,” Tandasnya. [red]

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Tangerang Maesyal Rasyid Ajak Masyarakat Perkuat Nilai Pancasila

1 Juni 2026 - 12:33

Gubernur Banten dan Bupati Tangerang Apresiasi Festival Tabuh Bedug Kecamatan Teluknaga

30 Mei 2026 - 22:59

Bupati Maesyal Rasyid Ajak Masyarakat Jadikan Masjid Sebagai Benteng Iman dan Sosial

29 Mei 2026 - 17:21

Khusu dan Khidmat, Wabup Intan Sholat Idul Adha di Masjid Agung Al Amjad

27 Mei 2026 - 17:36

Bupati Tangerang Serahkan Sapi Kurban Bantuan Presiden Prabowo Seberat 1,08 Ton

27 Mei 2026 - 15:37

Pemkab Tangerang Raih WTP ke-18 Berturut-turut, Bupati Maesyal: Bukti Tata Kelola Keuangan Semakin Baik

26 Mei 2026 - 19:28

Trending di Kabupaten Tangerang