Menu

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Kabupaten Tangerang · 19 Apr 2026 ·

Ancaman Megatrusht, Aktivis Lingkungan Masifkan Penanaman Mangrove di Pesisir Tangerang


 Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) dan Banksasuci Foundation gencarkan penanaman mangrove di pesisir Tangerang sebagai upaya mitigasi mengurangi resiko bencana Megatrusht.Foto: ist Perbesar

Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) dan Banksasuci Foundation gencarkan penanaman mangrove di pesisir Tangerang sebagai upaya mitigasi mengurangi resiko bencana Megatrusht.Foto: ist

Kabupaten Tangerang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada dua zona megathrust yang saat ini “tinggal menunggu waktu” untuk melepaskan energinya, yakni Megathrust Selat Sunda yang terakhir gempa pada 1757 dan Mentawai-Siberut pada 1797.

BMKG menjelaskan kondisi tersebut dikenal sebagai seismic gap, yakni wilayah yang secara geologis menyimpan energi besar karena sudah lama tidak mengalami gempa besar.

“Tinggal menunggu waktu bukan ramalan. Kalimat ini sering disalahartikan. Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.

BMKG menegaskan istilah tersebut digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis data sejarah dan geologi, bukan untuk memicu kepanikan publik.

“Istilah ilmiah ini digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berdasarkan data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Dalam Undang-Undang No. 31/2009, BMKG bertanggung jawab atas pengamatan, pengelolaan data, dan pelayanan informasi, termasuk gempa bumi dan tsunami,” jelas BMKG.

Aktivis Lingkungan Masifkan penanaman Mangrove 

Dalam menghadapi ancaman megatrusht tersebut, pegiat dan aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) gencarkan gerakan aksi penanaman mangrove sebagai Green Belt (Sabuk Hijau) Pesisir Tangerang bagian utara.

“Ketika keseimbangan terganggu, Bumi merespon melalui bencana, Kita tidak bisa mencegah gempa, tapi kita bisa mengurangi risikonya, salasatunya dengan terus memperkuat Green Belt di pesisir Tangerang melalui penanaman Mangrove,” Ungkap Koordinator Kalung, Ade Yunus, Minggu (19/04/2026).

Ade menambahkan bahwa perlu adanya kesadaran kolektif dalam upaya mitigasi bencana, salahsatunya upaya penghijauan dengan menanam mangrove di pesisir selatan pantai secara masif.

“Untuk menahan terjangan gelombang laut dan ancaman tsunami, penanaman mangrove merupakan bagian dari upaya mitigasi mengurangi resiko Bencana dispesisir pantai,” Tandasnya. [red]

Artikel ini telah dibaca 87 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Warga Kabupaten Tangerang Bersyukur Ikut Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)

3 September 2026 - 15:34

Tutup Gelar TTG XX, Gubernur Andra Soni Dorong Inovasi Desa Dukung Asta Cita

3 September 2026 - 15:03

Beasiswa Tangerang Gemilang 2026, 1.000 Lebih Mahasiswa Dapat Bekal Kuliah Demi Kejar Cita-Cita

1 September 2026 - 19:51

Bupati Tangerang Sambangi Keluarga Korban Pohon Tumbang Di Teluknaga

1 September 2026 - 19:42

Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang

31 Agustus 2026 - 19:30

Resmikan 7 USB, Gubernur Andra Soni Wujudkan Komitmen Pemerataan Akses Pendidikan Berkeadilan

31 Agustus 2026 - 12:13

Trending di Banten