Menu

Mode Gelap
Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir

Kabupaten Tangerang · 22 Agu 2026 ·

Green Belt Mangrove, Upaya Mitigasi Megathrust dan Tsunami Berbasis Ekosistem


 Pegiat dan Aktivis Lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Terus Gencarkan Penanaman Mangrove sebagai upaya membentuk Green Belt sebagai benteng alami menjaga pesisir pantai Utara Tangerang. Foto: TangerangPos Perbesar

Pegiat dan Aktivis Lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Terus Gencarkan Penanaman Mangrove sebagai upaya membentuk Green Belt sebagai benteng alami menjaga pesisir pantai Utara Tangerang. Foto: TangerangPos

Kabupaten Tangerang – Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica Pada 11 Maret 2011 sekitar 18.500 jiwa meninggal dunia, 10.800 orang hilang, dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka akibat gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9 yang memicu tsunami setinggi 40 meter meluluhlantahkan kawasan pesisir Jepang.

Indonesia, sebagai negara yang sering mengalami gempa seperti Jepang, tentu akan belajar dari tragedi dahsyat gelombang tsunami terlebih menghadapi Megathrust dengan melakukan upaya kesiapsiagaan bencana salahsatunya adalah menggencarkan penanaman mangrove sebagai green belt alami upaya mitigasi berbasis ekosistem di pesisir pantai.

Mangrove Green Belt Alami Pesisir Pantai

Karakteristik perakaran mangrove yang padat, batangnya yang rapat, serta tajuknya yang tinggi menciptakan pembatas fisik alami antara daratan dan lautan mampu menjadi benteng alami.

Hutan mangrove yang lebat dengan lebar minimal 200 meter terbukti efektif meredam energi gelombang ekstrem, termasuk memitigasi dampak bencana tsunami.

Akar mangrove mencengkeram sedimen lumpur dengan sangat kuat, mengikat tanah agar tidak terkikis oleh hantaman ombak dan pasang surut air laut mampu menjadi penahan abrasi dan erosi.

Selain meredam gelombang tsunami, Mangrove sebagai Sabuk hijau alami ini membantu mengendapkan lumpur dan menyaring air, sehingga mencegah air asin merembes lebih jauh ke dalam cadangan air tanah di daratan.

Perbandingan Pesisir dengan Mangrove dan Tanpa Mangrove, Sumber: Olah Data TangerangPos

Untuk mempertahankan fungsi perlindungan ini, pendekatan Rehabilitasi Mangrove Ekologis (EMR) kini lebih diutamakan. Pendekatan ini tidak sekadar menanam bibit baru, melainkan memperbaiki aliran air dan kondisi lahan agar buah (propagul) mangrove dapat tumbuh dan beregenerasi secara mandiri. [red]

 

 

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dukung Gerakan 2 Milyar Pohon, Aktivis Tanam 10.000 Mangrove di Pesisir Utara Tangerang 

21 Agustus 2026 - 07:50

Wamenkes Apresiasi Kinerja Pemkab Tangerang Percepatan Program Kesehatan

20 Agustus 2026 - 16:33

Bupati Maesyal Rasyid Tinjau Kebersihan dan Layanan Puskesmas

19 Agustus 2026 - 19:45

Canangkan INOVASI TERPA GANTUNG, Wabup Intan Dorong Pola Penanganan Stunting Lebih Kolaboratif, efektif dan Terpadu

19 Agustus 2026 - 19:38

Bupati Tangerang Dorong Olahraga Jadi Penggerak Ekonomi Desa

18 Agustus 2026 - 19:00

Bupati Tangerang: Hangar VTDI Perkuat Ekosistem Industri Dirgantara dan Buka Lapangan Kerja

18 Agustus 2026 - 18:55

Trending di Kabupaten Tangerang