Menu ✖

Mode Gelap
Pemkab Tangerang dan 26 Perguruan Tinggi Tandatangani Kerja Sama Beasiswa Tangerang Gemilang Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Pelayanan Umat, MUI Kota Tangerang Terapkan ISO 9001:2015 Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, DP3AP2KB Tangsel Bekali Masyarakat Manajemen Stres dan Dukungan Psikologi Awal Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim

Edukasi · 19 Apr 2026 ·

Muh.Arman Alwi: Negara Ramai Bicara atau Negara Maju Bekerja?


 Muh.Arman Alwi, Wakil Direktur BSNPG. Foto: ist Perbesar

Muh.Arman Alwi, Wakil Direktur BSNPG. Foto: ist

Artikel – Dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa, tidak ada negara yang langsung lahir sebagai negara maju. Semua melewati fase panjang, penuh perdebatan, tarik-menarik kepentingan, hingga kegaduhan wacana. Pada titik ini, banyak yang bertanya apakah maraknya diskusi adalah tanda kemajuan, atau justru gejala stagnasi?.

Filsuf seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel menjelaskan bahwa perkembangan peradaban bergerak melalui dialektika, tesis, antitesis, dan sintesis. Artinya, benturan gagasan adalah keniscayaan. Dalam konteks negara berkembang, perdebatan bukan hanya wajar, tapi diperlukan sebagai proses pencarian bentuk terbaik bagi kehidupan bernegara.

Namun, perdebatan saja tidak cukup. Jurgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang sehat, di mana diskusi bukan sekadar ramai, tetapi juga rasional, terbuka, dan berorientasi pada solusi. Sayangnya, dalam praktik di banyak negara berkembang, diskusi sering kali berhenti pada retorika, bukan resolusi.

Di sinilah letak persoalan utamanya. Ketika diskusi tidak pernah bertransformasi menjadi keputusan, dan keputusan tidak pernah diwujudkan menjadi tindakan, maka negara terjebak dalam siklus tanpa ujung. Seolah-olah bergerak, padahal sebenarnya berputar di tempat.

Samuel P. Huntington mengingatkan bahwa modernisasi tanpa penguatan institusi hanya akan melahirkan ketidakstabilan. Terlalu banyak suara tanpa struktur yang kuat justru memperlemah arah pembangunan. Negara tidak kekurangan ide, tetapi kekurangan ketegasan untuk mengeksekusi.

Negara maju bukanlah negara yang sunyi dari perdebatan. Mereka tetap berdiskusi, bahkan lebih tajam. Bedanya, diskusi mereka terukur, berbasis data, dan berujung pada kebijakan yang konsisten dijalankan. Ada disiplin kolektif untuk mengubah wacana menjadi kerja nyata.

Di titik inilah kita perlu jujur melihat diri sendiri. Apakah kita masih menikmati keramaian diskusi sebagai tujuan, atau sudah menjadikannya sebagai alat untuk melahirkan keputusan?. Apakah energi bangsa ini habis di ruang-ruang debat, atau sudah mengalir ke ruang-ruang kerja dan eksekusi?.

Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah negara bukan pada seberapa panjang perdebatan yang dilakukan, melainkan pada seberapa nyata hasil yang dirasakan rakyatnya. Diskusi adalah awal. Keputusan adalah arah. Eksekusi adalah pembuktian.

Penulis: Muh.Arman Alwi – Wakil Direktur BSNPG

Artikel ini telah dibaca 128 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dihadapan 4.966 Mahasiswa Baru Uniba, Gubernur Andra Soni Dorong Generasi Muda Miliki Growth Mindset

16 September 2026 - 19:16

Belajar Langsung dengan Maestro Bambu, EJN Siapkan Gerakan Pelestarian Bambu di Kabupaten Tangerang

10 September 2026 - 17:05

Annisa Mahesa Edukasi Gen Z soal Investasi agar Tak Terjebak FOMO 

8 September 2026 - 17:19

Cetak 153 Sarjana Berdaya Saing, Universitas Yuppentek Indonesia Helat Wisuda ke III di Novotel Tangerang

22 Agustus 2026 - 22:38

Gubernur Andra Soni Komitmen Perkuat Pendidikan Antikorupsi di Seluruh Jenjang Pendidikan

11 Mei 2026 - 15:54

Bupati Tangerang Luncurkan Buku Cerita “Mangrove Penyelamat Pantai”

4 Mei 2026 - 15:33

Trending di Edukasi