Tangerang – Lonjakan harga plastik yang naik hingga 100% pada Awal April 2026 yang dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku global akibat konflik timur tengah, menjadi momentum perubahan perilaku masyarakat untuk lepas dari ketergantungan plastik sekali pakai.
Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) Ade Yunus saat Ngopi Circular Economies di Banksasuci Cihuni, Senin, 13 April 2026.
“Sebagian besar sampah yang kita bersihkan di Sungai Cisadane dan sejumlah kali mayoritas adalah sampah plastik yang berpotensi menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam rantai makanan manusia. Dengan adanya kenaikan harga plastik ini menjadi momentum perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai,” Ungkap Ade, Senin (13/04/2026).
Dampak sampah plastik yang mencemari sungai dan kali bukan hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga pada kesehatan dan ekonomi. Mulai dari banjir akibat saluran tersumbat sampah plastik, kerusakan ekosistem laut, hingga penurunan pendapatan nelayan akibat berkurangnya hasil tangkapan.
“Membawa tumbler dan tas belanja kain sendiri merupakan langkah kecil konkret yang dilakukan atas kesadaran kolektif memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan sampah plastik,” Tegasnya.
Peran pemerintah daerah selalu pemangku kebijakan juga diperlukan melalui diterbitkannya Surat Edaran pengurangan sampah plastik.
“Makan minum untuk keperluan rapat dan kegiatan kedinasan baiknya dikurangi penggunaan plastik melalui Surat Edaran Kepala Daerah, sehingga relate dengan kondisi saat ini dan menjadi pemicu Circular Economi,” Pungkasnya. [red]











