Tangerang – Komunitas Peduli Sungai Banksasuci konsisten melakukan upaya dan aksi nyata memulihkan Sungai Cisadane guna memastikan sudah tidak ada lagi residu pestisida baik pada air permukaan maupun yang mengendap pada sedimen dasar Sungai Cisadane.
“Kontaminasi residu pestisida didasar sungai Cisadane menjadi ancaman bagi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka waktu lebih lama, oleh karenanya kami terus berupaya memastikan sedimentasi dasar Cisadane steril dari pestisida, dengan mengambil sampel lumpur bawah untuk kemudian diuji lobarotorium,” Ungkap Ketua Banksasuci Foundation, Ade Yunus, Rabu (04/03/2026).
Pelarutan Eco Enzym dan Tebar 50 Ton Ikan
Sejak tercemarnya Sungai Cisadane akibat tumpahan 20 ton Pestisida, Banksasuci tercatat sebagai lembaga paling concern melakukan mitigasi jangka pendek dengan melarutkan Eco Enzym sebagai upaya menetralisir air permukaan dari kontaminasi Pestisida.
“Sebagai upaya menteralisir air permukaan Cisadane, alhamdulillah kami telah larutkan Eco Enzyme, disertai dengan penebaran 50 ton berbagai jenis ikan, untuk mengembalikan habitat dan biota air Sungai Cisadane,” Tambahnya.
BRIN: Pencemaran Cisadane Merupakan Krisis Ekologis
Sebelumnya, Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., menegaskan bahwa kasus ini merupakan krisis ekologis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
Selain itu Ignasius menyoroti bahwa pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” terangnya.[red]











