Menu

Mode Gelap
Tinawati Andra Soni Raih Kartini Awards Atas Dedikasi Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga  JMSI Kabupaten Tangerang Tebar Kepedulian Ramadan, Bagikan Takjil, Sembako, hingga Santuni Yatim Berangsur Surut, 195 Petugas DLH Kota Tangerang Terus Bergerak Angkut Sampah Sisa Banjir Bupati Tangerang Terima Penghargaan Kabupaten Inspiratif Swasembada Pangan Mitra Adhyaksa 2025 Wabup Intan Nurul Hikmah Lepas Fun Walk San Mon 30

Edukasi · 20 Apr 2025 ·

Tulis untuk Perubahan: FMB & IPPNU Tangsel Gelar Pelatihan Menulis ala Jurnalis


 Diskusi Publik dan Pelatihan Kepenulisan Batch 2 yang Diinisiasi oleh FMB dan IPPNU Kota Tangerang Selatan. Foto: TangerangPos Perbesar

Diskusi Publik dan Pelatihan Kepenulisan Batch 2 yang Diinisiasi oleh FMB dan IPPNU Kota Tangerang Selatan. Foto: TangerangPos

Kota Tangsel – Tulisan bisa jadi senjata, dan itulah yang coba dibuktikan oleh Forum Media Baca (FMB) bersama IPPNU Tangerang Selatan dalam kegiatan Diskusi Publik dan Pelatihan Kepenulisan Batch 2 Bertempat di Gerak Gerik Cafe & Bookstore, Kota Tangerang Selatan, acara ini digelar Minggu, 20 April 2025, dari pukul 14.00 hingga 18.00 WIB, dengan menghadirkan para praktisi yang paham betul bagaimana tulisan bisa menggugah dan menggerakkan.

Dengan tema “Menciptakan Perubahan Melalui Tulisan di Media Sosial dengan Kacamata Jurnalis,” acara ini tidak hanya jadi ajang belajar menulis, tapi juga ruang kontemplasi: sejauh mana tulisan bisa menjadi alat perjuangan di era digital?

Acara dibuka oleh MC Latifah Zahra dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan dan Mars Mahasiswa.

Dalam sambutannya, Ahmad Chairul Rasyidin mengutip kata-kata legendaris Pramoedya Ananta Toer, Kalimat yang langsung menyulut semangat para peserta yang hadir.

“Sehebat apa pun orang, ketika dia tidak menulis, maka ia akan hilang dalam sejarah. Oleh karena itu menulis adalah bekerja untuk menciptakan keabadian,” Ungkapnya.

Sesi pertama diisi oleh Praga Utama, Redaktur Rubrik Opini Tempo.co. Praga membagikan berbagai trik menulis opini agar bisa tembus media arus utama seperti Tempo.

Baginya, menulis adalah bentuk perlawanan di tengah situasi represif terhadap aktivis yang turun ke jalan.

“Enggak harus bahas isu besar. Isu kecil pun bisa meledak kalau ditulis dengan cara yang kuat dan menarik. Kuncinya di paragraf pertama,” terangnya.

Ia menekankan pentingnya data yang valid, logika yang kuat, serta gaya bahasa yang bersih agar tulisan layak muat dan enak dibaca.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Herita Endriana, Co-Founder Aksara Institute. Berbeda dengan Praga, Herita lebih fokus pada strategi menulis opini di media sosial.

Menurutnya, menulis di medsos menuntut gaya yang ringkas tapi tetap argumentatif.

“Judul itu gerbang utama. Kalau gagal di judul, bisa-bisa pembaca langsung skip,” jelasnya.

Herita juga mengajak peserta untuk langsung praktik membuat artikel opini dengan pendekatan media sosial.

Kegiatan ditutup dengan pemberian cendera mata, dokumentasi, doa, dan penutupan. Tapi semangat yang dibawa para peserta tak berhenti di situ, karena kini mereka punya bekal untuk menulis, menyuarakan, dan menciptakan perubahan lewat kata-kata.[red]

Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Softlauncing Politeknik Ismet Iskandar Indonesia, Kampus Pencetak Pemimpin Masa Depan

2 Mei 2026 - 16:12

Hardiknas 2026, Program Sekolah Gratis Berdampak Pada Meningkatnya IPM dan RLS Provinsi Banten

2 Mei 2026 - 10:08

Raih Kinerja Tinggi Ke-2 Nasional dari Kemendagri, Benyamin Davnie: Motivasi untuk Meningkatkan Kinerja

27 April 2026 - 14:52

Kasus Pencemaran Cisadane, Polres Tangsel Tingkatkan Status ke Tahap Penyidikan

23 April 2026 - 23:44

Mahasiswa UNPAM Gelar PKM di Cilegon: Dorong Literasi Politik Remaja Lewat Media Sosial

23 April 2026 - 16:47

Kasus Pencemaran Cisadane Berlanjut, Aktivis Lingkungan Apresiasi APH

23 April 2026 - 12:36

Trending di Kota Tangerang Selatan